Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, pembangunan sirkuit memang menjadi salah satu gagasan yang kembali mengemuka seiring tingginya potensi atlet otomotif asal Gunungkidul.
Namun, realisasi program tersebut membutuhkan proses panjang dan kajian yang matang.
“Nanti akan dikaji terlebih dahulu, melihat lokasi dan kebutuhan anggarannya. Saat ini belum ada target realisasi tahunnya karena masih dalam tahap perencanaan,” ujar Hary saat ditemui di Wonosari, Kamis (4/6/2026).
Baca Juga: Emiliano Martinez Janji Akan Pulih untuk Piala Dunia 2026
Menutut dia, wacana pembangunan sirkuit sebenarnya bukan hal baru. Beberapa tahun lalu pemerintah daerah pernah merencanakan pembangunan sirkuit di wilayah Semanu. Namun, lahan yang sempat diwacanakan untuk fasilitas tersebut kini telah menjadi lokasi pengembangan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
“Bahkan pernah ada rencana pengadaan lahan sekitar 2015 lalu. Namun, dalam perjalanan ada kebijakan lain yang dinilai lebih mendesak sehingga belum terealisasi sampai sekarang,” jelasnya.
Hary mengakui fasilitas untuk olahraga otomotif di Gunungkidul saat ini masih sangat terbatas. Untuk sementara, kata dia, aktivitas latihan balap atlet kabupaten masih memanfaatkan area Pasar Hewan Siyono.
Menurutnya, lokasi tersebut menjadi satu-satunya di Gunungkidul yang dapat digunakan sebagai lokasi latihan. Kendati demikian, pihaknya tetap menyambut positif tingginya minat generasi muda terhadap olahraga otomotif.
Ia menilai, keberadaan sirkuit akan menjadi wadah yang lebih representatif untuk menyalurkan bakat sekaligus mengurangi potensi balap liar di jalan umum.
“Kami tentu bergembira melihat banyak talenta muda di bidang otomotif. Harapannya mereka bisa memiliki tempat yang layak untuk menyalurkan kemampuan dan energi kreatifnya,” katanya.
Hary menambahkan, saat ini pemerintah daerah tengah berupaya merumuskan langkah-langkah yang diperlukan untuk merealisasikan pembangunan sirkuit. Pembahasan meliputi penentuan lokasi, desain fasilitas, tahapan pembangunan hingga skema pembiayaan.
“Ini menjadi komitmen kami ke depan. Namun sekarang masih berupa wacana yang akan kami kaji lebih mendalam, baik terkait lahan, desain sirkuit maupun kebutuhan anggarannya,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Gunungkidul Putro Sapto Wahyono menyampaikan, dari sisi pendanaan belum dapat dilakukan perhitungan secara rinci karena belum ada kepastian mengenai lokasi maupun konsep sirkuit yang akan dibangun. Lebih lagi, kata dia, juga belum ada kepastian tahun pembangunan.
Dengan begitu, pihaknya belum bisa memastikan apakah pembangunan sirkuit akan menggunakan anggaran daerah atau menggunakan skema pembiayaan lainnya.
“Kalau dari sisi keuangan kami menyesuaikan prioritas pembangunan daerah. Karena belum ada kepastian konsep dan lokasinya, kebutuhan anggarannya juga belum bisa dihitung,” ujarnya.
Putro menegaskan apabila pembangunan sirkuit nantinya menjadi prioritas pemerintah daerah, pelaksanaannya dipastikan dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus selesai dalam satu tahun anggaran.
Pembangunan sirkuit, sambung Putro, nantinya juga harus mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari pengadaan tanah, luas area yang dibutuhkan hingga dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Saya yakin tidak mungkin langsung selesai sekaligus. Pasti bertahap karena harus melihat kebutuhan lahannya, konsep sirkuitnya seperti apa, serta kemampuan keuangan daerah,” katanya.
Ia menambahkan, pembahasan pembangunan sirkuit juga memerlukan keterlibatan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) serta konsultasi dengan pihak yang memiliki kompetensi di bidang olahraga otomotif dan perencanaan sirkuit.
“Perlu dibicarakan lintas OPD karena nantinya akan melahirkan kebijakan pembangunan. Selain itu juga perlu konsultasi dengan pihak yang memahami standar pembangunan sirkuit agar fasilitas yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan,” tandasnya mengakhiri. (bas)
Editor : Bahana.