Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemkab Gunungkidul Antisipasi Kemarau Lebih Awal, Petani Diminta Gunakan Varietas Padi Berumur Pendek

Yusuf Bastiar • Rabu, 11 Maret 2026 | 21:16 WIB

 

LANGKA: Ketiadaan pakan hijauan, membuat peternak rumahan asal Playen merumput saat musim kemarau beberapa waktu lalu.
LANGKA: Ketiadaan pakan hijauan, membuat peternak rumahan asal Playen merumput saat musim kemarau beberapa waktu lalu.
 
GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih awal.
 
Sejumlah strategi disiapkan untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah karakteristik wilayah yang didominasi lahan kering.
 
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, langkah mitigasi dilakukan setelah adanya rilis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang memprediksi sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.
 
Baca Juga: Prevalensi Stunting Sleman Turun, dari 4,41 Persen Jadi 4,29 Persen pada 2025
 
Menurutnya, kesiapan sejak dini menjadi kunci agar produksi pangan di Gunungkidul tetap terjaga.
 
“Pengalaman menghadapi kemarau tahun-tahun sebelumnya harus menjadi pelajaran untuk menyusun langkah yang lebih baik,” ujarnya saat gelaran sarasehan petani di Bangsal Sewokoprojo, Rabu (11/3/2026).
 
Salah satu strategi utama yang diinstruksikan kepada petani adalah penggunaan varietas padi dengan masa tanam pendek.
 
Dengan demikian, ia menyebut panen dapat dilakukan lebih cepat sebelum ketersediaan air menurun drastis saat kemarau berlangsung.
 
Baca Juga: Geger Menu MBG Diduga Ikan Mentah dan Roti Kadaluarsa, Begini Penjelasan Resmi BGN DIY
 
Selain itu, para petani juga diminta segera melakukan olah tanah dan memanfaatkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) untuk mempercepat proses pascapanen.
 
Pemanfaatan combine harvesteri, misalnya, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi kerja di lapangan.
 
Rismiyadi juga mengingatkan pentingnya perbaikan saluran drainase untuk meminimalkan risiko banjir di akhir musim penghujan.
 
Baca Juga: Prevalensi Stunting Sleman Turun, dari 4,41 Persen Jadi 4,29 Persen pada 2025
 
Di sisi lain, langkah pencegahan terhadap serangan hama juga telah disiapkan.
 
“Kami juga sudah menyiapkan stok pestisida, mulai dari rodentisida untuk mengendalikan tikus, insektisida, hingga obat jamur untuk mendukung petani,” jelasnya.
 
Di tengah tantangan iklim tersebut, Rismiyadi mengaku sektor pertanian Gunungkidul justru mencatatkan capaian positif.
 
Baca Juga: Pengadaan Tanah Tol Jogja-Bawen Capai 72 Persen, Beberapa Titik Masih Butuh Proses Lanjutan
 
 
Produksi gabah kering giling pada musim ini mencapai 297.508 ton. Jika dikonversi, jumlah tersebut setara dengan sekitar 184.454 ton beras.
 
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, pemerintah juga memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi pada 2026.
 
Total alokasi pupuk mencapai 36.539 ton yang terdiri dari 19.288 ton pupuk urea, 17.241 ton NPK, 9 ton NPK khusus kakao, serta 0,3 ton pupuk organik.
 
Baca Juga: Terungkap! Strategi Rahasia Pemkot Jogja Bikin Stunting Balita Turun 6 Persen
 
Menurut Rismiyadi, tata kelola pupuk di Gunungkidul bahkan mendapat apresiasi dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia selama empat tahun terakhir.
 
“Penilaian tersebut terutama terkait pemanfaatan sistem Kartu Tani yang dinilai efektif dalam penebusan pupuk oleh petani,” tandasnya.
 
Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan, sektor pertanian memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
 
Baca Juga: Tak Boleh Main Karaoke Saat Puasa! Ini Aturan Baru Pemkab Kulon Progo..
 
Menurutnya, perekonomian Gunungkidul saat ini menempati peringkat kedua di Daerah Istimewa Yogyakarta setelah Kabupaten Sleman.
 
Di sisi lain, angka kemiskinan di wilayah tersebut juga berhasil ditekan hingga berada di peringkat keempat di DIY.
 
Salah satu program yang mendorong ketahanan pangan adalah Gerakan Pangan dan Gizi yang mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam bahan pangan secara mandiri.
 
“Nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur. Menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam,” ujarnya.
 
Baca Juga: Gegara Ledakan Obat Petasan di Suryodiningratan, Balita dan Dua Orang Dewasa Dibawa ke RS
 
Melalui gerakan tersebut, ia berharap ketahanan pangan dapat dimulai dari tingkat keluarga.
 
Endah juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan para petani dalam menghadapi dinamika iklim ke depan.
 
“Kolaborasi ini penting agar langkah-langkah konkret menghadapi perubahan iklim bisa dirumuskan bersama demi kemajuan Gunungkidul,” tandasnya. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#kemarau #berumur pendek #Pemkab Gunungkidul #Petani #varietas padi