LANGKA: Ketiadaan pakan hijauan, membuat peternak rumahan asal Playen merumput saat musim kemarau beberapa waktu lalu.
GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih awal.
Sejumlah strategi disiapkan untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah karakteristik wilayah yang didominasi lahan kering.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, langkah mitigasi dilakukan setelah adanya rilis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang memprediksi sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.
Menurutnya, kesiapan sejak dini menjadi kunci agar produksi pangan di Gunungkidul tetap terjaga.
“Pengalaman menghadapi kemarau tahun-tahun sebelumnya harus menjadi pelajaran untuk menyusun langkah yang lebih baik,” ujarnya saat gelaran sarasehan petani di Bangsal Sewokoprojo, Rabu (11/3/2026).
Salah satu strategi utama yang diinstruksikan kepada petani adalah penggunaan varietas padi dengan masa tanam pendek.
Dengan demikian, ia menyebut panen dapat dilakukan lebih cepat sebelum ketersediaan air menurun drastis saat kemarau berlangsung.
Selain itu, para petani juga diminta segera melakukan olah tanah dan memanfaatkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) untuk mempercepat proses pascapanen.
Pemanfaatan combine harvesteri, misalnya, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi kerja di lapangan.
Rismiyadi juga mengingatkan pentingnya perbaikan saluran drainase untuk meminimalkan risiko banjir di akhir musim penghujan.
Di sisi lain, langkah pencegahan terhadap serangan hama juga telah disiapkan.
“Kami juga sudah menyiapkan stok pestisida, mulai dari rodentisida untuk mengendalikan tikus, insektisida, hingga obat jamur untuk mendukung petani,” jelasnya.
Di tengah tantangan iklim tersebut, Rismiyadi mengaku sektor pertanian Gunungkidul justru mencatatkan capaian positif.
Menurut Rismiyadi, tata kelola pupuk di Gunungkidul bahkan mendapat apresiasi dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia selama empat tahun terakhir.
“Penilaian tersebut terutama terkait pemanfaatan sistem Kartu Tani yang dinilai efektif dalam penebusan pupuk oleh petani,” tandasnya.
Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan, sektor pertanian memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurutnya, perekonomian Gunungkidul saat ini menempati peringkat kedua di Daerah Istimewa Yogyakarta setelah Kabupaten Sleman.
Di sisi lain, angka kemiskinan di wilayah tersebut juga berhasil ditekan hingga berada di peringkat keempat di DIY.
Salah satu program yang mendorong ketahanan pangan adalah Gerakan Pangan dan Gizi yang mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam bahan pangan secara mandiri.
“Nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur. Menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam,” ujarnya.