GUNUNGKIDUL – Pemkab Gunungkidul kembali mengintensifkan operasi pasar (OP) selama Ramadan hingga menjelang Idul Fitri.
Langkah ini untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok (bapok) agar tak mengalami kenaikan signifikan di tengah permintaan yang meningkat.
Sebanyak 10 ton sembako digelontorkan untuk menahan laju peningkatan harga.
Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten (Disdagnaker) Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengatakan, komoditas yang disiapkan terdiri dari 3.500 kilogram (kg) gula pasir dan 6.500 liter minyak goreng.
Distribusi dilakukan melalui 40 pedagang di lima pasar tradisional.
“Lokasinya di antaranya Pasar Argosari, Pasar Semin, Pasar Ponjong, Pasar Wonosari, dan Pasar Semanu. Harga yang kami tawarkan di bawah harga pasar,” ujarnya saat ditemui di Pasar Argosari, Selasa (24/2/2026).
Ia mencontohkan, harga gula pasir di pasaran saat ini menembus Rp17.500 per kg. Melalui OP ini, masyarakat bisa memperoleh dengan harga Rp15.500 per kg.
Sedangkan minyak goreng dijual lebih murah Rp 2.000 hingga Rp 2.500 dibanding harga normal.
Menurut Kelik, OP ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam mengendalikan fluktuasi harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat, khususnya kalangan prasejahtera.
Untuk memastikan tepat sasaran, pembelian dibatasi maksimal dua kemasan atau dua liter per orang.
Kebijakan itu ditempuh guna mencegah aksi borong oleh oknum yang berpotensi menjual kembali barang dengan harga lebih tinggi.
“Kami ingin benar-benar membantu masyarakat yang membutuhkan, bukan dimanfaatkan untuk spekulasi,” tegasnya.
Selain sembako, pihaknya juga memantau kenaikan harga cabai rawit yang terjadi secara merata di berbagai daerah.
Pemerintah terus berkoordinasi dengan distributor dan pemangku kepentingan guna menjaga pasokan tetap aman.
Kelik menambahkan, OP telah rutin digelar sejak Januari dan akan berlanjut hingga Maret mendatang.
“Pemkab bahkan menyiapkan tambahan alokasi sekitar 10 ton komoditas agar harga tetap terkendali sampai Lebaran,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan, kegiatan OP ini menjadi kewajiban pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Terlebih, pada momentum Ramadan dan Lebaran sering memicu kenaikan harga ketika permintaan tinggi sementara pasokan terbatas.
“Operasi pasar ini dibutuhkan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mencegah inflasi,” ujarnya.
Endah juga menyoroti keluhan pedagang pasar terkait penurunan omzet akibat persaingan penjualan daring dan perubahan pola belanja masyarakat.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi perhatian pemkab dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada UMKM dan pedagang tradisional.
“Ke depan, kami akan mencari formulasi agar pedagang pasar tetap bisa bertahan dan berkembang di tengah perubahan pola konsumsi,” imbuhnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita