Pesan GKR Mangkubumi untuk Kadin: Gunungkidul Itu Jogja, Jangan Disamakan dengan Bali
Yusuf Bastiar• Selasa, 10 Februari 2026 | 00:00 WIB
GKR Mangkubumi saat menyerahkan bendera Kadin sebagai simbol Joko Pitoyo kembali memimpin Kadin Gunungkidul.
GUNUNGKIDUL - Joko Pitoyo kembali dipercaya memimpin Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Gunungkidul untuk periode 2026–2031.
Joko Pitoyo kembali terpilih sebagai Ketua.
Melalui Musyawarah Daerah ke-IX, Ketua Kadin DIY GKR Mangkubumi memberikan pesan tegas agar arah pembangunan pariwisata tetap berpijak pada karakter Jogjakarta dan tidak disamakan dengan Bali.
GKR Mangkubumi menekankan, agar Kadin Gunungkidul mampu mendorong kontribusi nyata bagi perekonomian masyarakat, khususnya melalui hadirnya investasi padat karya yang berwawasan lingkungan.
“Saya meminta Kadin Gunungkidul bisa menghadirkan investasi padat karya yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Tapi ingat, jangan membawa investasi yang merusak alam,” tegas GKR Mangkubumi saat ditemui di Sewokoprojo Wonosari pada Senin, (9/2/2026).
Secara khusus, GKR Mangkubumi mengingatkan agar arah pengembangan pariwisata di Gunungkidul tidak disamakan dengan Bali. Menurutnya, Gunungkidul harus tetap menjaga identitas sebagai bagian dari Yogyakarta dengan karakter dan kearifan lokalnya sendiri.
“Banyak investor ingin membuat Gunungkidul seperti Bali. Saya selalu sampaikan, ini Jogja, bukan Bali” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan tata ruang, termasuk ketentuan sepadan pantai, serta selektivitas dalam menerima investasi. Industri yang masuk, kata dia, harus ramah lingkungan dan selaras dengan visi-misi pembangunan daerah, bukan sekadar meniru konsep daerah lain. “Alam harus dijaga dari kerusakan,” ujarnya.
Sementara itu, Joko Pitoyo menyatakan komitmennya untuk mempercepat proses industrialisasi, khususnya di wilayah utara Gunungkidul yang dinilai memiliki potensi geografis besar untuk pengembangan sektor industri.
Ke depan, Kadin Gunungkidul berencana terus menarik investasi padat karya guna menekan angka pengangguran, dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Kehadiran industri di wilayah utara sudah mulai terasa dampaknya. Beberapa perusahaan besar seperti PT Wonel mampu menyerap tenaga kerja lokal,” kata Joko.
Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menegaskanz peran strategis Kadin sebagai mitra pemerintah daerah dalam menggerakkan roda perekonomian sekaligus menciptakan iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk dukungan konkret, pemerintah kabupaten berkomitmen memberikan kemudahan perizinan yang transparan, cepat, dan mudah, sepanjang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Hingga kini, PAD dari retribusi tiket wisata telah menembus angka lebih dari Rp8 miliar,” tegasnya.
Ke depan, kata Endah, Pemkab Gunungkidul berencana meningkatkan kualitas infrastruktur jalan pada 2026 untuk mendukung akses industri berorientasi ekspor, termasuk industri sarung tangan yang telah menyerap hampir 1.900 tenaga kerja lokal.
Menurutnya sinergi antara Kadin, pemerintah daerah, dan dunia usaha mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Gunungkidul. “Pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan tetap berpijak pada kelestarian alam serta identitas daerah,” imbuh Endah. (bas)