Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dampak Melimpahnya Sayuran dan Protein Hewan Gunungkidul Alami Deflasi 0,17 Persen di Awal 2026

Yusuf Bastiar • Jumat, 6 Februari 2026 | 09:10 WIB
FOKUS: Petani saat menggarap lahan yang baru saja dipanen.
FOKUS: Petani saat menggarap lahan yang baru saja dipanen.

 

GUNUNGKIDUL - Kabupaten Gunungkidul mengawali 2026 dengan kondisi deflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul mencatat, pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,17 persen secara bulanan atau month to month (m-to-m).

Penurunan harga terutama dipengaruhi melemahnya harga sejumlah komoditas pangan strategis di pasaran.

Kepala BPS Gunungkidul Agus Hartanto menjelaskan, deflasi Januari didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil deflasi sebesar 0,46 persen.

Sejumlah komoditas hortikultura menjadi penyumbang utama, seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, hingga daging ayam ras. “Pasokan pangan relatif melimpah pada awal tahun sehingga mendorong penurunan harga, terutama pada komoditas sayuran dan protein hewani,” ujar Agus saat ditemui di kantornya pada Kamis, (5/2).

BPS mencatat, cabai merah dan daging ayam ras menjadi dua komoditas dengan andil deflasi terbesar selama Januari. Penurunan harga tersebut turut menahan laju inflasi daerah, meskipun pada kelompok pengeluaran lain masih terdapat kenaikan harga.

Meski secara bulanan mengalami deflasi, lanjut Agus, kondisi berbeda terlihat pada perhitungan tahunan. Ia menyampaikan inflasi Gunungkidul secara year on year (y-on-y) pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,11 persen dibanding Januari 2025.

Inflasi tahunan tersebut terutama disumbang oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil 1,44 persen, yang didominasi kenaikan tarif listrik .

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi tahunan, yakni sebesar 0,93 persen, dipicu naiknya harga emas perhiasan.

“Komoditas ini masih menjadi salah satu penopang inflasi di tengah fluktuasi harga barang kebutuhan lainnya,” terangnya.

Statistisi Pertama BPS Gunungkidul Ardiyas Munsyianta menambahkan, perbedaan arah antara deflasi bulanan dan inflasi tahunan menunjukkan dinamika harga yang bersifat musiman dan struktural.

Baca Juga: Efek Domino di Simpang Tape Ketan Muntilan, Tabrakan Beruntun Tiga Truk gegara Sopir Mengantuk

Menurutnya, deflasi m-to-m mencerminkan kondisi jangka pendek akibat melimpahnya pasokan pangan, sementara inflasi y-on-y lebih menggambarkan tekanan biaya dari sektor nonpangan.

“Tarif listrik dan emas perhiasan masih menjadi faktor utama yang menjaga inflasi tahunan tetap berada di atas tiga persen,” jelas Ardiyas.

Secara kumulatif, lanjut dia, inflasi tahun kalender (year to date) Gunungkidul hingga Januari 2026 tercatat deflasi 0,17 persen. Ia menilai kondisi tersebut masih relatif terkendali.

Kendati demikian, perkembangan harga pangan menjelang bulan-bulan berikutnya serta kebijakan tarif energi menjadi faktor yang perlu terus dicermati. “Ya, ini perlu diperhatikan untuk menjaga stabilitas inflasi daerah ke depan,” jelasnya. (bas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#sayuran #bps #Gunungkidul #agus #protein hewani #deflasi