Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cuaca Ekstrem Dominasi Bencana Gunungkidul, 129 Kejadian Sepanjang Januari 2026

Yusuf Bastiar • Selasa, 3 Februari 2026 | 22:00 WIB

 

TERDAMPAK: Material longsoran yang menutup akses jalan di Kalurahan Mertelu, Gedangsari 13 Januari lalu.
TERDAMPAK: Material longsoran yang menutup akses jalan di Kalurahan Mertelu, Gedangsari 13 Januari lalu.

GUNUNGKIDUL - Bencana hidrometeorologi masih menjadi ancaman utama di Kabupaten Gunungkidul. Sepanjang Januari 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat 129 kejadian bencana. Ratusan kejadian bencana tersebut didominasi oleh cuaca ekstrem.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono menyampaikan, berdasarkan data yang ia miliki, cuaca ekstrem menyumbang 56,6 persen dari total kejadian bencana. Disusul tanah longsor sebesar 35,7 persen, banjir 3,9 persen, gempa bumi 3,1 persen, serta kebakaran gedung dan permukiman 0,8 persen.

Menurutnya, tingginya kejadian cuaca ekstrem tidak lepas dari dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Intensitas hujan lebat, angin kencang, hingga puting beliung tercatat meningkat pada awal tahun ini.

“Cuaca ekstrem masih menjadi ancaman utama. Hampir seluruh wilayah terdampak, baik di kawasan perkotaan maupun perdesaan,” ujarnya saat dikonfirmasi Selasa (3/2).

Dari sisi wilayah, jumlah kejadian tertinggi ada di Wonosari dengan 24 kejadian. Disusul Gedangsari sebanyak 20 kejadian, Patuk 12 kejadian, dan Nglipar 10 kejadian. Total terdapat 18 kapanewon yang terdampak bencana sepanjang Januari.

Secara keseluruhan, bencana tersebut berdampak pada 227 jiwa. Dengan 32 sarana dan prasarana vital mengalami kerusakan. “Kami juga mencatat sedikitnya 18 kapanewon terdampak langsung,” terangnya.

Sementara itu, untuk bencana tanah longsor, BPBD mencatat 46 kejadian dengan 99 korban terdampak. Wilayah dengan kejadian longsor terbanyak berada di Gedangsari (13 kejadian), Patuk (7 kejadian), serta Nglipar dan Ponjong masing-masing 5 kejadian.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta menjelaskan, kondisi geologi Gunungkidul yang didominasi kawasan karst. Menjadi faktor kerentanan longsor, terutama setelah musim kemarau panjang.

“Retakan tanah yang terbentuk saat kemarau, ketika diguyur hujan deras secara tiba-tiba, sangat rawan memicu longsor,” jelasnya.

Selain itu, bencana cuaca ekstrem secara spesifik tercatat sebanyak 73 kejadian, dengan 101 korban terdampak. Adapun kejadian gempa bumi tercatat empat kali, berdampak pada 14 jiwa dan empat rumah, meski tidak menimbulkan kerusakan berat. Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Khususnya di wilayah rawan longsor dan daerah dengan kepadatan permukiman tinggi.

“Masyarakat juga diminta segera melaporkan potensi bencana kepada pemerintah kalurahan atau BPBD agar penanganan bisa lebih cepat,” tandasnya. (bas/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) #Gunungkidul #Cuaca Ekstrem #Bencana #bencana hidrometeorologi #kabupaten gunungkidul #BPBD Gunungkidul