Ketahanan Pangan Hargomulyo Berbuah Ganda, Sapi Gaduhan Dongkrak Ekonomi Warga
Yusuf Bastiar• Jumat, 9 Januari 2026 | 19:50 WIB
BUMKal Sembodo Hargomulyo sedang menyerahkan sapi untuk program ketahanan pangan sistem gaduh pada warganya.
GUNUNGKIDUL - Program ketahanan pangan (ketapang) Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari, menunjukkan hasil nyata.
Melalui penggemukan sapi sistem gaduh yang dikelola Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Sembodo, warga tak hanya memperoleh tambahan pendapatan rutin tiap enam bulan sekali.
Tetapi, kalurahan juga berkontribusi menjaga ketersediaan stok daging sapi di pasaran.
Ketua Pelaksana Ketahanan Pangan BUMKal Hargomulyo Paino mengatakan, program ketahanan pangan hayati berbasis peternakan sapi telah berjalan sejak 2022 dan terus berkelanjutan hingga kini.
Program ini menyasar penggemukan sapi dengan masa jual enam bulan sekali.
“Setiap enam bulan ada penjualan sapi. Dari situ ada nilai tambah dari harga jual sapi, sehingga warga mendapatkan tambahan pendapatan secara berkala,” ujar Paino saat ditemui di kantor kalurahan pada Jumat, (9/1/2026).
Ia menjelaskan, selain berdampak langsung pada ekonomi rumah tangga penggaduh, program ini juga memberi kontribusi pendapatan asli desa (PAD).
Skema yang diterapkan adalah bagi hasil 60:40, dengan porsi 60 persen untuk penggaduh dan 40 persen untuk BUMKal.
Untuk biaya pengobatan ternak, BUMKal menanggung 40 persen, sementara penggaduh 60 persen.
“Ini murni pemberdayaan. Warga kami untung lebih besar, BUMKal tetap berjalan. Perputaran programnya berkelanjutan, setelah sapi dijual, kami belikan lagi, digaduh lagi, begitu terus perputaran ekonominya,” imbuhnya.
Pada tahap awal 2022, program ini melibatkan 17 penggaduh dengan total 17 ekor sapi.
Skema tersebut bertahan hingga 2025, di mana Pemerintah Kalurahan Hargomulyo kembali mengalokasikan 20 persen Dana Desa untuk ketahanan pangan, senilai sekitar Rp260 juta.
Dana tersebut digunakan untuk pengadaan 17 ekor sapi yang digaduhkan kepada 17 warga.
Kemudian, BUMKal Sembodo membentuk Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) guna memastikan proses pengadaan berjalan sesuai SOP, mulai dari pembelian sapi hingga pendampingan kepada penggaduh.
“Kalau sapi yang dipilih kurang cocok, kami carikan yang paling sesuai. Semua proses kami dampingi,” jelas Paino.
Keberhasilan program penggemukan sapi mendorong Pemkal Hargomulyo untuk memperluas ketahanan pangan ke sektor peternakan ayam pada 2026.
Rencana tersebut akan mencakup ayam pedaging dan petelur, dengan menggandeng Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kalurahan Hargomulyo.
Menurut Paino, keberadaan dapur SPPG yang melayani lebih dari 3.000 penerima manfaat menjadi peluang besar bagi ekonomi lokal.
“Artinya, dalam sehari bisa dibutuhkan sekitar 3.000 butir telur atau 3.000 potong daging ayam. Meski tidak setiap hari, dalam sepekan pasti ada kebutuhan. Ini peluang yang sangat besar jika dikelola bersama,” ujarnya.
Namun demikian, realisasi program ayam masih membutuhkan kebijakan lanjutan, terutama terkait penyediaan lahan dan permodalan. Lokasi peternakan direncanakan berada jauh dari permukiman.
“Ini masih tahap perencanaan. Pekan depan kami akan rapat kalurahan untuk tindak lanjutnya,” tegas Paino.
Terkait pendanaan, Paino menegaskan ketahanan pangan tetap menjadi prioritas meski ada kebijakan penyesuaian Dana Desa.
“Secara aturan, 20 persen Dana Desa wajib untuk ketahanan pangan. Kami berharap tetap ada alokasi karena manfaatnya sangat jelas bagi perekonomian warga,” tegasnya.
Sementara itu, Lurah Hargomulyo, Sumaryanta menegaskan, komitmen pemkal untuk memperkuat ekonomi lokal melalui BUMKal.
Ia menyebut pengembangan peternakan ayam diarahkan untuk mendukung kebutuhan dapur SPPG sekaligus melindungi peternak dari permainan tengkulak.
Dengan semangat gotong royong dan kemandirian desa, kata dia, program penggemukan sapi dan rencana pengembangan ternak ayam di Hargomulyo mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
“Agar ekonomi warga meningkat, dalam berproses kami dampingi agar peternak tidak dipermainkan pedagang perantara. Ini komitmen kami untuk memberdayakan masyarakat secara langsung,” imbuh Sumaryanta. (bas)