GUNUNGKIDUL - Libur natal dan tahun baru (nataru) belum memberi dampak signifikan bagi pedagang walang goreng di kawasan Pantai Baron dan Jalur Jalan Jalur Lingkar Selatan (JJLS). Omzet mereka stabil seperti hari-hari biasa.
Salah satu pedagang walang goreng yang mangkal di pinggir JJLS Baron Noto Wardi, 65, mengaku, penjualannya justru mengalami penurunan selama libur panjang nataru.
Ia mulai berjualan sejak 20 Desember lalu dan membuka lapak setiap hari hingga Minggu (4/1/2026), berbeda dengan hari biasa yang hanya berjualan saat akhir pekan.
“Kalau tahun lalu, sehari bisa habis puluhan kaleng. Sekarang paling hanya 10 sampai 15 kaleng per hari,” kata Noto saat ditemui di lapaknya Minggu (4/1/2026).
Menurutnya, meskipun arus lalu lintas di JJLS terlihat ramai oleh kendaraan wisatawan, namun jumlah pembeli yang berhenti di lapaknya relatif sedikit.
Padahal, walang goreng dikenal sebagai salah satu kuliner khas Gunungkidul yang unik dan jarang ditemui di daerah lain.
“Lalu lintasnya ramai, tapi yang berhenti beli sedikit. Saya kira wisatawan luar kota tertarik karena ini khas dan unik, tapi ternyata penjualannya hampir sama seperti hari biasa,” ujarnya.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Noto menambah dagangan berupa buah markisa dan srikaya hasil kebunnya sendiri.
Ia berharap pembeli buah yang singgah tertarik sekaligus membeli walang goreng.
“Harapannya bisa nambah penghasilan. Kadang orang berhenti beli buah, terus lihat walang, akhirnya ikut beli,” jelasnya.
Noto menjual walang goreng seharga Rp35 ribu per wadah. Namun, jika pembeli menawar Rp 30 ribu, ia memilih melepasnya agar dagangan tetap laku.
Walang goreng yang dijualnya diproses sendiri, sementara bahan baku didapat dari wilayah Saptosari.
“Ini usaha sampingan saya. Pekerjaan utama saya kan petani, jadi tetap saya tekuni meski hasilnya nggak banyak,” terangnya.
Kondisi serupa juga dirasakan Wasido, pedagang walang goreng yang berjualan di dalam kawasan wisata Pantai Baron.
Meski lokasinya berada di jalur utama wisata, peningkatan penjualan selama libur nataru juga tidak signifikan.
“Penjualannya biasa-biasa saja. Paling banyak 20 kaleng sehari, sama seperti hari libur biasa,” ungkapnya.
Ia menilai faktor lokasi yang berada di jalur utama dalam kawasan wisata memang membantu menjaga penjualan tetap stabil, namun tidak cukup mendongkrak omzet selama libur panjang.
“Kalau Sabtu-Minggu ya segitu juga. Tidak sampai naik drastis,” imbuhnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita