GUNUNGKIDUL – Anggaran bantuan air bersih di Kabupaten Gunungkidul pada tahun anggaran 2025 tidak terserap optimal.
Hingga pertengahan November, permohonan dropping air bersih dari masyarakat menurun drastis akibat fenomena kemarau basah.
Staf Penyaluran Air Bersih Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Gunungkidul Agung Prasetyo mengatakan, pagu anggaran dropping air bersih pada tahun ini mencapai Rp 282.800.000.
Namun hingga 13 November 2025, realisasi penyaluran baru mencapai 216 rit atau 864 ribu liter air, dengan nilai serapan sekitar Rp 45.595.600.
“Kalau sampai akhir tahun tidak ada permohonan tambahan, sisa anggaran yang tidak terserap akan dikembalikan ke kas daerah,” ujarnya kepada wartawan Senin (17/11/2025).
Dari total 18 kapanewon di Gunungkidul, bantuan air bersih baru tersalurkan ke 8 kapanewon dan 11 kalurahan.
Jumlah permohonan tahun ini disebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan realisasi kurang dari 20 persen, Agung menyebut masih tersisa lebih dari Rp 200 juta anggaran yang belum digunakan.
Meski demikian, pihaknya tetap membuka layanan permohonan bagi warga atau pemerintah kalurahan yang mengalami kekurangan air bersih.
“Jika hingga 31 Desember tidak ada penambahan permintaan, dana tersebut akan dikembalikan ke kas daerah sesuai ketentuan,” jelasnya.
Baca Juga: Isu Korupsi Pakan Harimau Ragunan Mencuat, Gubernur DKI Jakarta Bantah
Kepala Bidang Darlog BPBD Gunungkidul Edy Winarta menjelaskan, penurunan permintaan dropping air dipengaruhi kondisi cuaca yang tidak sepenuhnya kering.
Pada akhir Juli, BPBD telah menetapkan Siaga Bencana Hidrometeorologi Kering 2025 sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan.
Namun prediksi tersebut tidak sepenuhnya terjadi.
“Setelah status siaga bergulir, ternyata kemarau yang terjadi adalah kemarau basah. Intensitas hujan masih turun di banyak wilayah meski sudah memasuki musim kemarau,” imbuh Edy. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita