GUNUNGKIDUL - Memasuki musim tanam, aktivitas pertanian di berbagai wilayah Gunungkidul kembali menggeliat. Tak hanya petani yang sibuk di sawah, para buruh tani pun kebanjiran pesanan untuk beragam pekerjaan.
Buruh tani asal Padukuhan Banjaran, Karangasem, Paliyan Suwardi mengaku, setiap hari dia bersama rekan-rekannya harus beripindah dari satu lahan ke lahan lain. Membantu petani dalam berbagai tahapan menanam padi.
Pesanan pekerjaan yang diterimanya, tidak hanya menanam padi. Namun juga menyiapkan lahan, mencabut rumput, hingga menyebar benih.
“Sampai nanti panen. Biasanya sehari bisa dapat Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu,” ungkap Suwardi saat ditemui di lahan pertanian Kalurahan Mulusan Rabu (5/11).
Menurutnya, permintaan tenaga buruh meningkat tajam karena tidak semua petani mampu mengelola lahan sendiri. Proses menyiangi rumput, misalnya, memerlukan tenaga ekstra dan ketelitian agar tanaman padi tetap tumbuh subur.
Apalagi, kata dia, model pertanian padi yang diterapkan di Gunungkidul. Padi yang ditanam di tanah kering, lanjut Wardi, membuat gulma menjadi musuh utama pertumbuhan tanaman.
Baca Juga: Setelah Pemakaman Paku Buwono XIII Tidak Ada Acara Lagi sampai Prosesi 40 Harian
Bagi Suwardi, menjadi buruh tani bukan hanya soal mencari penghasilan tambahan. Ia sendiri juga memiliki lahan kecil yang digarap secara mandiri. Namun ketika pekerjaannya di sawah pribadi rampung, dia memilih membantu petani lain untuk menambah penghasilan dan menutupi kebutuhan harian.
“Satu lahan biasanya dikerjakan lima orang, bisa selesai dua hari. Upahnya antara Rp 80 ribu sampai Rp100 ribu per hari,” jelasnya.
Sementara itu, petani asal Kalurahan Mulusan, Kapanewon Paliyan Sukidi, 70, mengaku, peran buruh tani sangat membantu, terutama bagi petani lanjut usia seperti dirinya. “Saya sudah sepuh, jadi nggak kuat kalau bersihin rumput sendiri. Makanya saya bayar orang biar cepat selesai,” ujarnya.
Menurut Sukidi, pembersihan rumput sangat penting dilakukan tepat waktu agar tanaman padi tidak kalah subur. Jika terlambat, rumput bisa tumbuh lebih cepat dan mengganggu pertumbuhan padi. “Kalau rumputnya keburu besar, pupuknya nanti malah diserap rumput, padinya bisa kurus,” ungkapnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita