Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bertahan di Tengah Malam, Bertumbuh di Tengah Pasar: Sepuluh Tahun Perjuangan 'Samben Bakoel Pulsa' di Gunungkidul

Yusuf Bastiar • Jumat, 24 Oktober 2025 | 20:38 WIB

Di emperan Kios depan Pasar Argosari, Wahyu menggelar lapak Samben Bakoel Pulsa setiap malamnya.
Di emperan Kios depan Pasar Argosari, Wahyu menggelar lapak Samben Bakoel Pulsa setiap malamnya.
GUNUNGKIDUL - Di depan Pasar Argosari, saat malam mulai larut dan kios-kios menutup pintu, satu sudut kecil tetap terang benderang.

Sebuah papan bercahaya merah kuning bertuliskan Samben Bakoel Pulsa berdiri mencolok, seakan menolak padam di tengah sepi.

Dari balik etalase kecil berstiker lusuh, Wahyu Riswanto duduk bersandar, menatap ponsel sambil menunggu pelanggan yang datang silih berganti di waktu orang lain terlelap.

“Saya mulai usaha ini sejak 2015. Sudah sepuluh tahun sekarang,” katanya sambil tersenyum tipis saat ditemui pada Jumat dini hari, (24/10/2025).

Perjalanan Wahyu bukan kisah biasa. Tahun 2014, ia mengalami kecelakaan parah yang membuat separuh tubuhnya lumpuh.

Saat itu, ia masih kuliah di Yogyakarta, jurusan pertanian dengan cita-cita menjadi PNS. “Tapi setelah kecelakaan, saya sadar nggak mungkin lagi kerja ikut orang. Saya harus cari jalan sendiri,” tuturnya pelan.

Dari masa pemulihan yang panjang, muncul gagasan sederhana tapi tajam. Ia terinspirasi dari apotek dan minimarket yang buka 24 jam.

Dari ide itulah, Samben Bakoel Pulsa lahir, warung pulsa yang justru berdenyut ketika kota kecil Wonosari mulai terlelap.

“Saya pikir, kalau obat aja dicari orang tengah malam, berarti ada kebutuhan mendesak. Nah, pulsa juga kebutuhan. Kalau konter lain tutup jam 9 malam, kenapa saya nggak buka justru setelah itu?”

Awal mula, Wahyu hanya berbekal modal seadanya dan keyakinan. Ia membuka lapak kecil di depan Pasar Argosari setiap malam, dari pukul 10 malam hingga pukul 3 dini hari.

Pelanggannya beragam: sopir, pedagang, anak muda yang baru pulang nongkrong, hingga bapak-bapak yang butuh paket data mendadak.

“Dulu tiap malam bisa sampai seratus transaksi,” kenangnya. “Zaman itu orang masih beli pulsa buat SMS dan telepon, belum semuanya pakai paket internet,” ujarnya.

Strateginya sederhana tapi efektif. Ia menjual paket harian dan mingguan agar perputaran uang cepat dan pelanggan kembali lebih sering.

Wahyu tahu betul ritme kebutuhan konsumennya. Ia memilih bertahan di segmen yang dianggap kecil oleh banyak orang, namun justru memberinya nafas panjang.

“Kalau jual paket bulanan, modalnya besar, tapi uangnya muter lama,” jelasnya.

Wahyu memilih Pasar Argosari bukan tanpa alasan. Baginya, pasar adalah simbol kehidupan. Dan benar, selama sepuluh tahun ini, dari sudut kecil di depan pasar, ia bisa menghidupi dirinya dan keluarganya.

“Saya pernah mikir, di pasar itu bahkan kucing yang dibuang aja bisa hidup. Artinya pasar itu tempat yang penuh berkah,” ucapnya sambil terkekeh.

Namun perjalanan satu dekade tidak selalu mulus. Aturan baru tentang kewajiban registrasi NIK untuk kartu perdana membuat transaksi menurun drastis.

Disusul dengan maraknya e-wallet dan Wi-Fi rumahan yang semakin mudah dijangkau. Hal ini berdampak langsung pada usaha Samben milikinya.

Ia bercerita jika sekarang rata-rata transaksi mencapai 50 an per malam. Padahal, lanjut dia, duulu bisa dua kali lipatnya. Tapi Wahyu tidak menyerah.

Ia terus beradaptasi dengan membuka pembayaran via QRIS, melayani top-up e-wallet, dan mulai merancang usaha baru.

“Ke depan saya mau bikin foodtruck kecil, jualan kopi di dekat sini. Biar orang bisa nongkrong, sambil beli pulsa juga,” ujarnya dengan mata berbinar.

Nama usahanya, Samben, diambil dari bahasa lokal Gunungkidul yang berarti “sampingan”. Tapi bagi Wahyu, justru “sampingan” inilah yang menghidupi.

Setiap malam, di tengah lengang pasar, Wahyu menyalakan lampu kecil di lapaknya. Cahaya kuningnya menjadi tanda masih ada orang yang bekerja, masih ada harapan yang menyala dari sebuah samben, usaha kecil yang terus bertahan di antara derasnya perubahan zaman.

“Banyak orang pikir samben itu pekerjaan tambahan. Tapi buat saya, samben ini justru pekerjaan utama. Ini hidup saya,” katanya mantap. 

Editor : Bahana.
#Gunungkidul