Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hadir di Gunungkidul, FKY Usung Tema Besar Adoh Ratu Cedak Watu, Ajak Baca Ulang Hubungan Kekuasaan dan Rakyat

Yusuf Bastiar • Minggu, 12 Oktober 2025 | 04:29 WIB

 

RAJAKAYA: Pembukaan FKY 2025 di Gunungkidul diawali dengan ritus memberi makan sapi.
RAJAKAYA: Pembukaan FKY 2025 di Gunungkidul diawali dengan ritus memberi makan sapi.

GUNUNGKIDUL - Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) kembali digelar tahun ini dengan semangat baru dan cakupan lebih luas. Memasuki pelaksanaan ke-36, FKY 2025 menjadikan Kabupaten Gunungkidul sebagai tuan rumah mengusung tema besar “Adoh Ratu Cedak Watu” yang merefleksikan kedekatan masyarakat dengan tanah, alam, dan akar budaya mereka.


Direktur FKY BM Anggana menjelaskan, penyelenggaraan FKY tahun ini merupakan wujud upaya menghadirkan kebudayaan yang adaptif, kontekstual, dan berpihak kepada masyarakat. Menurutnya, Gunungkidul menjadi ruang alami bagi FKY karena kekayaan tradisi dan kearifan lokal yang tumbuh kuat di masyarakat.


"Tahun ini kami berbicara tentang tradisi dalam lanskap Adoh Ratu Cedak Watu. Gunungkidul adalah wilayah yang gemah ripah dengan adat dan tradisi berlimpah. Di sini, nilai-nilai dan praktik budaya tumbuh organik, menolak penyeragaman identitas, dan terus diperbarui melalui interaksi sosial sehari-hari," ujarnya saat pembukaan festival di Lapangan Logandeng, Sabtu (11/10) sore.


Ia menegaskan, FKY memposisikan diri sebagai panggung “tobong” yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Menurutnya, ini merupakan sebuah ruang terbuka yang tidak hanya menyalin, tetapi juga memantulkan dinamika kebudayaan ke publik.


Tema Adoh Ratu Cedak Watu, lanjut Anggana, mengandung makna historis, politis, dan ekologis yang menggambarkan jarak dari pusat kekuasaan sekaligus kedekatan masyarakat dengan tanah dan lingkungan sebagai sumber kehidupan.


"Ungkapan itu kesadaran bahwa kekuatan masyarakat berakar pada solidaritas horizontal antarwarga dan kedekatan dengan alam. Watu menjadi metafora bagi prinsip ekologis seperti kemandirian, keberlanjutan, dan keseimbangan antara manusia, tanah air, serta seluruh unsur kehidupan,” tambahnya.


Tak hanya itu, Anggana menilai penyelenggaraan FKY ke-36 di Gunungkidul menjadi refleksi penting bahwa kebudayaan bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang pertemuan antara tradisi dan gagasan baru. Di tengah krisis sosial dan lingkungan global, lanjutnya, FKY 2025 hadir sebagai pengingat bahwa masa depan kebudayaan Indonesia tumbuh dari tepi-tepi yang saling menopang, dari jarak yang menumbuhkan kedekatan, dari batu yang menjadi penopang kehidupan.


"Batu adalah simbol keteguhan dan prinsip kebudayaan kita. Dari sinilah, FKY di Gunungkidul menjadi ruang yang tidak hanya merayakan seni, tapi juga memperkuat moral dan solidaritas sosial,” tambahnya.


Sekprov DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti mewakili Gubernur HB X menilai, tema Adoh Ratu Cedak Watu memiliki makna mendalam. Ia menyebut jarak dari pusat kekuasaan bukanlah bentuk keterasingan, melainkan ruang tumbuh bagi kemandirian dan kekuatan budaya masyarakat Gunungkidul.


Dari jarak itulah lahir daya lenting, bukan keterasingan. "FKY tahun ini mengajak kita membaca ulang hubungan antara kekuasaan dan rakyat,” ujarnya.


Di tengah keterbatasan, lanjut Indrayanti, justru tumbuh cara pandang yang unik antara hormat dan kemandirian, antara patuh dan berdaya. Ia menambahkan, relasi antara pusat dan pinggiran sejatinya harus dibaca ulang melalui kebudayaan, bukan sebagai jarak yang memisahkan, melainkan ruang dialog yang menyehatkan.


Sementara itu, Sekda Gunungkidul Sri Suhartanta yang hadir mewakili bupati menegaskan, keberadaan FKY di Gunungkidul menjadi momentum penting untuk memperkuat jati diri kebudayaan lokal di tengah arus globalisasi.


Menurutnya, filosofi watu atau batu dalam tajuk tahun ini mengingatkan masyarakat Gunungkidul untuk tetap kokoh seperti batuan karst Gunungkidul. Hal ini dapat membakitkan semangat kolektif untuk melestarikan nilai, kearifan lokal, dan jati diri kebudayaan Bumi Handayani.
"Kita akan menyaksikan FKY sebagai olah cipta dari para seniman. Tradisi yang hidup dan tumbuh di Gunungkidul," tandasnya. (bas/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Budaya #Ni Made Dwipanti Indrayanti #tradisi #fky 2025