Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sawah Rosok, Inovasi Petani Gunungkidul Ubah Sampah Plastik Jadi Lahan Pangan

Yusuf Bastiar • Selasa, 7 Oktober 2025 | 11:40 WIB

 

Suhantara sedang menunjukkan hasil Sawah Rosok miliknya dihadapan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul.   
Suhantara sedang menunjukkan hasil Sawah Rosok miliknya dihadapan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul.  

GUNUNGKIDUL - Di sebuah sudut halaman rumah sederhana di Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong, deretan galon bekas berbaris rapi.

Bukan sekadar tumpukan plastik sisa, galon-galon itu kini menjadi sawah mini yang menghijaukan pekarangan.

Di sanalah Suhantara, Ketua Gapoktan Genjahan Makmur menemukan cara baru mengubah sampah plastik menjadi sumber pangan.

 Baca Juga: Pastikan Keamanan Pangan, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Pengawasan MBG Diperketat

“Dulu galon dan ember rusak hanya menumpuk. Lama-lama saya pikir, kenapa tidak dipakai untuk hal bermanfaat?” kenang Suhantara sambil menunjuk padi varietas inpari 24 yang tumbuh subur di dalam wadah-wadah itu, Senin (6/10/2025).

Awalnya, percobaan itu dikerjakan sendirian. Galon dipotong menjadi pot tanpa dilubangi, lalu diisi tanah halus bercampur kompos.

Tiga bibit padi hasil semaian ditanam di setiap pot. Tak disangka, dalam waktu 115 hari, padi menguning dan siap dipanen.

Dari situlah tetangga ikut mencoba. Bersama tetangga itulah Suhantara kemudian memberi nama unik pada inovasi itu, yakni Sawah Rosok.

Menurutnya, di mata masyarakat, plastik bekas adalah masalah lingkungan. Tapi di tangan Suhantara, ia berubah menjadi lahan alternatif.

“Padi itu suka air, jadi galon tidak perlu dilubangi. Perawatannya juga mudah, pupuknya hanya sedikit,” ujarnya.

Hasil panen memang tak sebesar sawah konvensional, namun tetap menjanjikan. Dari kesaksian Suhantara satu galon menghasilkan sekitar 130 gram gabah kering.

Jika menggunakan varietas hibrida, potensi panen bisa melonjak hingga 400 gram per galon.

Bayangkan, kata dia, dari 100 pot saja bisa terkumpul 30 sampai 40 kilogram gabah.

Inovasi ini mendapat sorotan ketika Suhantara memamerkannya dalam peringatan Hari Tani Nasional di Sewoko Projo, 24 September 2025 lalu.

Bupati Gunungkidul menyambut baik gagasan tersebut sebagai terobosan untuk ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan.

 Baca Juga: Direktur RS Grhasia Jadi Plt Kepala Dinkes DIY usai Pembajun Styaningastutie Pensiun: Pengisian Definitif Masih Dibahas, Target Terisi Tahun Ini

Kini, bukan hanya halaman Suhantara yang hijau. Pekarangan tetangga pun mulai dipenuhi galon bekas berisi padi.

Dari jauh, barisan plastik itu mungkin tampak biasa. Namun bagi warga Genjahan, setiap galon menyimpan cerita tentang kreativitas yang lahir dari keterbatasan, tentang semangat menjaga lingkungan, sekaligus menanam harapan akan kemandirian pangan.

“Kalau dulu plastik hanya jadi masalah, sekarang justru bisa memberi makan,” kata Suhantara dengan senyum lebar, sambil meraba bulir padi yang sebentar lagi siap dipanen.

 Baca Juga: Hasto Wardoyo Targetkan Atasi 50 Ton Sampah Sisa Makanan lewat Emberisasi, 'Sampah Tak Perlu Dibawa ke Depo'

Di tengah isu krisis pangan dan sampah plastik yang kian mengkhawatirkan, Sawah Rosok membuktikan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium besar.

Kadang, ia justru tumbuh di halaman rumah, dari tangan-tangan petani yang tak pernah lelah mencari jalan keluar.

Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul juga melihat prospek besar di balik Sawah Rosok. Sekretaris Dinas, Raharjo Yuwono, menilai program ini layak dikembangkan lebih luas.

“Kalau didampingi PPL dengan demplot dan pencatatan hasil, inovasi ini bisa jadi model pertanian baru untuk lahan sempit,” imbuhnya. (bas)

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#sumber pangan #Gunungkidul #sawah rosok #Galon #sampah plastik #sawah mini #ketahanan pangan