Namun, di balik geliat pariwisata itu, tersisa persoalan timbunan sampah yang terus bertambah dan kian membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wonosari.
Selama tiga hari libur tersebut, total sampah yang masuk ke TPA Wonosari tercatat mencapai 154,81 ton, atau rata-rata 51,6 ton per hari.
Petugas Penimbangan Sampah di TPA Wonosari, Elvina Nur menjelaskan, dari jumlah tersebut 7,52 ton berasal dari kawasan pantai selatan dengan rata-rata sekitar 2,5 ton sampah pantai per hari.
“Volume sampah meningkat cukup tajam selama liburan kemarin, terutama dari sektor pariwisata,” ujarnya saat ditemui di lokasi TPA Rabu, (2/7/2025).
Sampah yang masuk ke TPA dikelola dengan metode penimbunan di zona aktif.
Prosesnya meliputi penumpukan di area cekung, pemadatan menggunakan alat berat, dan penutupan dengan lapisan tanah untuk meratakan serta mengurangi dampak lingkungan.
Kepala TPA Wonosari, Heri Kuswantoro, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah dari kawasan wisata dilakukan secara berjenjang, melibatkan berbagai pihak.
Menurutnya, di setiap pantai sudah ada petugas kebersihan dari UPT TPA Wonosari, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, hingga TPS3R.
“Sampah diambil, dipilah oleh TPS3R, lalu dibawa ke TPA untuk ditimbang dan dikelola di zona aktif,” jelasnya.
Namun demikian, kondisi TPA Wonosari kini berada di titik kritis. Dari total luas 9,1 hektar, sebanyak 5 hektar zona aktif telah mengalami over kapasitas.
Saat ini, hanya tersisa lahan kosong yang belum dimanfaatkan secara penuh.
Sekarang ini, pihaknya sedang merencana pengembangan ke zona kosong yang ada dengan konsep tempat pengolahan sampah terpadu (TPST). “TPA Wonosari sudah overload,” lanjut Heri.
Sebagai satu-satunya TPA di Kabupaten Gunungkidul, TPA Wonosari menanggung seluruh beban sampah dari kawasan Bumi Handayani, termasuk dari aktivitas ekonomi, rumah tangga, dan sektor pariwisata yang terus tumbuh.
Heri mengaku lonjakan volume sampah saat musim liburan pun menjadi tantangan tahunan yang harus segera diantisipasi.
Pengelolaan dan pengembangan sistem persampahan, kata Heri, kini menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah untuk menjawab ancaman krisis lingkungan di tengah geliat pariwisata yang tak terbendung. (cr1)
Editor : Bahana.