GUNUNGKIDUL – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul membeberkan kronologi satu ekor sapi mati karena antraks di Kalurahan Tilang, Girisubo, Gunungkidul.
Kepala DPKH Gunungkidul Wibewanti Wulandari mengungkapkan, kematian sapi tersebut bermula pada Selasa (4/2). Ketika pemilik sapi menyadari nafsu makan ternak mulai menurun. Sapi tersebut pada malam hari masih tampak mau makan sedikit, tetapi pada keesokan paginya, kondisi sapi semakin memburuk. “Saat ditemukan, sapi tersebut dalam keadaan tergeletak dengan perut teraba panas," ujar Wibawanti dalam keterangannya, Selasa (18/2).
Melihat kejadian itu, pemilik segera memanggil paramedik setempat untuk memeriksa kondisi sapi. Sayangnya, ketika paramedik tiba, sapi tersebut telah dinyatakan mati. Setelah kematian sapi, petugas segera mengambil sampel darah untuk dikirimkan ke UPT Lab Keswan DPKH. Hasil uji laboratorium yang diterima pada Sabtu (15/2) mengungkapkan bahwa sapi tersebut positif antraks.
Dalam investigasi yang dilakukan, DPKH Gunungkidul menemukan bahwa mempunyai tiga ekor sapo dan dua ekor kambing. Sapi yang mati adalah seekor sapi Limousin jantan berusia 1,5 tahun. Diketahui pada November 2024, pemilik telah memindahkan sapi tersebut dari lokasi lain. "Kami bersama tim dari BBVet Wates segera melakukan koordinasi dengan perangkat kalurahan setempat untuk memberikan informasi dan saran mengenai tindakan yang harus diambil," jelasnya.
Di lokasi kejadian, tim melakukan desinfeksi dengan menggunakan larutan Baycline untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit. Selain itu, petugas juga mengambil sampel tanah dan feses di sekitar kandang untuk keperluan analisis lebih lanjut.
Rencana tindak lanjut mencakup koordinasi internal dan eksternal yang lebih intensif untuk pengendalian kasus Antraks ini. Penyiraman ulang desinfektan akan dilakukan oleh UPT Puskeswan Semanu. "Selain itu, surveillans lanjutan juga direncanakan untuk memastikan tidak ada lagi kasus yang muncul, disertai dengan program komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat," ucapnya.
Wibawanti mengatakan, vaksinasi terhadap ternak yang masih tersisa di sekitar kandang juga telah dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut. Pihaknya dan BBVet akan terus memantau situasi dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan hewan dan masyarakat setempat. (ndi/pra)
Editor : Heru Pratomo