GUNUNGKIDUL - Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul melaporkan, inflasi year on year (yoy) pada November 2024 sebesar 0,81 persen. Dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 105,37 persen.
Kepala BPS Gunungkidul Joko Prayitono mengatakan, inflasi tersebut disebabkan oleh kenaikan harga pada beberapa kelompok pengeluaran. Seperti pakaian dan alas kaki 2,74 persen, kesehatan 3,45 persen, dan perawatan pribadi serta jasa lainnya yang mengalami kenaikan tertinggi 7,61 persen.
"Namun, beberapa kelompok pengeluaran seperti makanan, minuman, dan tembakau 0,10 persen serta transportasi 0,62 persen justru mengalami penurunan indeks," ujar Joko kepada awak media Senin (2/12/2024).
Joko menjelaskan bahwa inflasi tahunan (y-t-d) hingga November 2024 berada pada angka 0,47 persen, lebih rendah dibanding target inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.
“Dengan sisa waktu satu bulan, kami akan melihat apakah inflasi tahunan dapat mendekati target nasional. Saat ini, situasi masih terkendali,” ucapnya.
Baca Juga: Gandeng Mahasiswa, Yayasan AHM Siapkan Puluhan Agen Safety Riding
Menurutnya, dalam pengendalian harga membutuhkan sinergitas antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Perlunya memastikan ketersediaan barang untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang akhir tahun, yang secara historis cenderung meningkat.
"Jika persediaan cukup, gejolak harga dapat dicegah," jelasnya.
Joko mengatakan, tren kenaikan inflasi pada momen Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru) disebabkan oleh kenaikan permintaan pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau. Namun begitu, belum ada data pasti karena survei lebih lanjut diperlukan. Akan tetapi, secara historis, permintaan meningkat signifikan menjelang akhir tahun.
"Dari tren yang ada, beberapa kelompok pengeluaran menunjukkan peningkatan konsumsi, khususnya menjelang perayaan Nataru. Tahun lalu, di bulan yang sama, kami juga melihat pola serupa," tandasnya. (ndi/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita