GUNUNGKIDUL - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DIY mendorong adanya pengkajian ulang terkait proyek Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) di Gunungkidul. Itu merespons ditemukannya gua stalagmit dan stalaktit beberapa waktu lalu.
Kepala Divisi Kampanye Walhi DIY Elki Setiyo Hadi mengatakan, perlunya kajian berkaitan dengan pola ruang di lingkungan sekitar lokasi gua. Itu untuk mempertimbangkan kelanjutan proyek JJLS di area tersebut. Mengingat Gunungkidul merupakan kawasan geopark Gunungsewu yang banyak kawasan karst. Sehingga kajian mendetail perlu dilakukan.
"Atas dasar itu, hendaknya juga diperhitungkan apakah (proyek, Red) bisa dilanjutkan atau tidak," ujarnya saat dikonfirmasi Selasa (22/10/2024).
Dia mengaku, Walhi memang belum melakukan kajian yang mendalam pasca ditemukannya gua tersebut. Namun beberapa tahun yang lalu, pihaknya sempat fokus mengkritisi rencana pembangunan JJLS di Gunungkidul di kepengurusan sebelumnya.
"Sebaiknya proyek di area gua dihentikan terlebih dahulu," pintanya.
Diketahui, proyek JJLS membentang sepanjang 116 kilometer. Terhitung dari Kulon Progo, Bantul hingga Gunungkidul. Keberadaan jalur ini diproyeksikan untuk mempermudah akses wisatawan ke sejumlah destinasi wisata di pesisir selatan DIY. Namun menurut Walhi DIY, pembangunan ini justru dinilai berpotensi memperlebar kerusakan. Khususnya terhadap bukit karst yang membentang beririsan dengan JJLS.
Selain itu, pembangunan proyek JJLS juga berpotensi menimbun luweng yang berada tepat di atas koordinat proyek tersebut. Dampaknya bisa berpotensi memicu penyumbatan saluran air bawah tanah, sehingga berakibat pada tekanan atau kehilangan flow lubang drainase karena tertutup. Pengeringan aliran sungai bawah tanah karena semakin hilangnya resapan air hujan berpotensi akan hadir seiring dengan rusaknya ekosistem karst.
Walhi DIY juga sempat mengadakan diskusi dan pameran foto pada 2022. Pameran dengan tema 'Menapaki Penjarahan Gunung Sewu' itu bekerja sama dengan komunitas Resan Gunungkidul untuk mengkritisi pembangunan JJLS.
Narasi-narasi dalam karya foto tersebut membicarakan proyek JJLS telah mengepras perbukitan karst, mengubur lahan-lahan pertanian, serta meratakan permukiman warga yang berada dalam lintasan proyek ini.
Tanggapan juga muncul dari seorang Guru Besar Fakultas Geografi UGM Eko Haryono. Dia mengatakan, proyek JJLS harus menyesuaikan dengan sebaran gua dan menilai pentingnya melakukan pengkajian. “Standar operasional prosedur mengharuskan untuk dilakukan penelitian terlebih dahulu mengenai jangkauan sebaran gua,” ujarnya.
Menurutnya, gua tersebut memiliki posibilitas menjadi objek wisata dengan dilakukan kajian menegenai struktur gua dan kapasitas orang di dalamnya. Selain itu, kajian tersebut menghasilkan penilaian kondisi awal untuk keamanan manusia dan lingkungan.
“Nantinya hal ini akan kami teliti dari sisi geologi dan geofisika dengan mengukur temperatur dan CO2. Sirkulasi udara perlu dipastikan dulu keamanannya,” bebernya.
Selain diolah menjadi rekomendasi pembangunan jalan, hasil kajian ini nantinya dimanfaatkan untuk pembuatan jalur gua bagi wisatawan demi meminimalisasi risiko kerusakan stalaktit dan stalakmit yang saat ini masih aktif. Hal itu dibuktikan dengan kucuran air yang muncul dari stalaktit dan stalagmit dalam gua.
“Pembentukan gua purba di Gunungkidul diperkirakan berusia ratusan ribu tahun, maka sebisa mungkin perlu DIYaga,” paparnya. (oso/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita