Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kekeringan Makin Parah, Stok Air Bersih Menipis BPBD Gunungkidul Siapkan 1.000 Tangki, Sudah Tersalurkan 472 Tangki

Andi May • Selasa, 30 Juli 2024 | 03:00 WIB

Penyaluran air bersih ke rumah warga yang terdampak bencana kekeringan oleh BPBD Gunungkidul, Senin (29/7).Dokumen BPBD Gunungkidul
Penyaluran air bersih ke rumah warga yang terdampak bencana kekeringan oleh BPBD Gunungkidul, Senin (29/7).Dokumen BPBD Gunungkidul

 


RADAR JOGJA - Bencana kekeringan imbas kemarau berkepanjangan di sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul makin mengkhawatirkan. Warga terdampak di tujuh kapanewon terus memohon bantuan air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul.


Berdasarkan data BPBD Gunungkidul, bencana kekeringan terdampak di Kapanewon Panggang, Rongkop, Saptsosari, Girisubo, Tepus, Nglipar dan Karangmojo. Sebagian besar warga yang tidak mendapatkan aliran perusahaan daerah air minum (PDAM).


Dalam mengatasi bencana kekeringan, BPBD menyiapkan 1.000 tangki yang diperkirakan dapat digunakan hingga Oktober 2024 mendatang. Namun, permintaan yang terus meningkat, hampir 50 persen bantuan air bersih telah disalurkan.


Kasi Logistik dan Peralatan BPBD Gunungkidul Arif Prasetyo mengatakan, warga yang terdampak bencana kekeringan ialah yang masih memanfaatkan air tadah hujan sebagai kebutuhan sehari-hari. Kemarau berkepanjangan memaksa warga harus mengajukan bantuan air bersih ke pemerintah. "Dari data kami, sudah dua juta liter atau 472 tangki air bersih telah disalurkan, dampak kekeringan semakin meluas," ujar Arif kepada awak media, Senin (29/7).


Dikatakannya, setiap hari pihaknya melakukan dropping air sebanyak 200 ribu tangki air bersih menggunakan armada yang telah disiapkan. Selain hujan yang tak kunjung turun, sumber mata air yang dimanfaatkan warga juga telah mengering.


Dia menyebut, stok bantuan air bersih kini tersisa 528 tangki yang ditargetkan hingga Oktober 2024 mendatang. BPBD juga berkomitmen untuk terus menindaklanjuti permintaan air bersih yang dimohonkan oleh warga yang terdampak bencana kekeringan.


Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, dampak kekeringan sebagian besar dirasakan oleh warga yang bermukim di wilayah Selatan Gunungkidul. Terkhusus, bagi rumah-rumah warga yang terletak di daerah perbukitan. "Karena daerah itu (perbukitan) sulit dijangkau oleh air PDAM, sehingga warga masih memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari," ujar Purwono.


Wilayah selatan, lanjut Purwono, merupakan kawasan batuan karst yang sulit untuk mendapatkan sumber air. Karena kemarau belum juga usai, pihaknya telah menetapkan status kedaruratan siaga bencana kekeringan. "Penetapan status siaga bencana hingga 31 Agustus, tidak menutup kemungkinan statusnya akan diperpanjang melihat kondisi sekarang ini," jelasnya. (ndi/pra)

Editor : Satria Pradika
#kemarau #Gunungkidul #Badan Penanggulangan Bencana Daerah #BPBD #PDAM #bencana kekeringan