GUNUNGKIDUL - Teman bisa datang dan pergi, namun sosok sahabat biasanya terpatri dalam hati. Meski terpisah jarak dan waktu mereka akan tetap saling terkoneksi.
Itulah arti persahabatan bagi Arifin MPdI MBA Guru SMAN 2 (Smada) Wonosari tersebut mengungkap betapa tingginya derajat sahabat dalam kehidupannya.
"Bagi saya sahabat itu saling mendukung, baik dalam suka maupun duka," kata Arifin.
Master of Business Administration, Master of Management (MM),
FEB, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta angkatan 2011-2013 ini mengaku punya teman akrab, dan sampai sekarang masih komunikasi.
"Kalau ketemu sahabat, biasanya bicara ringan," ucapnya.
Mengenang hal-hal lucu yang terjadi saat sekolah atau kuliah. Bincang-bincang momen di kantin, cinta monyet, guru yang kalau mengajar hanya memeluk papan tulis, pernah dihukum ngangkat sepeda mengelilingi lapangan.
"Sampai ke hal hal agak serius terkait kondisi sosial politik dan pengaruhnya ke pendidikan saat ini," jelasnya.
Alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan University of Massachussets, USA itu mulai menyebut nama-nama sahabatnya.
"Teman SMP, namanya Bambang dan Muannassaroh, keduanya hidup bahagia. Bambang menjadi seorang paranormal di Cilacap dan Muannassaroh, siswa tercantik saat itu, tinggal di Jepara," ucapnya.
Ada juga nama lain seperti Hanafi, sahabat waktu SMA kini dinas di Polda DIY. Di waktu sekarang pihaknya ingin anak didik di Smada Wonosari menjaga persahabatan.
"Generasi sekarang ini unik karena berada dalam lipatan dunia digital," ungkapnya.
Dia mengingatkan kepada generasi sekarang tentang networking positif. Sangat penting bagi kesehatan mental dan ketahanan daya juang mereka.
"Maka, selain membangun kerekatan persahabatan, mereka juga harus memiliki nalar moral untuk menjaga keselamatan diri dari kejahatan digital fake," bebernya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin