RADAR JOGJA - Masih ingat dengan salah satu dusun di Gunungkidul yang mengalami waktu siang yang singkat? Ya, Dusun Wota Wati, Kalurahan Pucung, Girisubo bermukim di aliran sungai Bengawan Solo Purba.
Karena diapit dua perbukitan dari arah Timur dan Barat, sinar matahari terasa sangat singkat di daerah itu. Fenomena itu rupanya berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat setempat. Mulai pukul 08.00, warga setempat mulai bekerja seperti biasanya, entah itu di lahan persawahan maupun di Pantai Sadeng.
Fenomena langka tersebut membuat orang-orang luar penasaran dan ingin menyaksikan langsung. Banyaknya turis yang sering berkunjung membuat warga setempat berinisiatif untuk menjadikan daerahnya sebagai objek wisata.
Keinginan warga setempat rupanya mendapatkan jawaban dari Pemprov DIJ Mereka mendapatkan kucuran Dana Keistimewaan (Danais) Rp 5 Miliar untuk menyulap tempat tersebut menjadi objek wisata.
Lurah Pucung Estu Dwiyono mengatakan, anggaran miliaran itu akan digunakan untuk penataan fasilitas untuk realisasi pembentukan kawasan desa wisata. Khususnya Dusun Wota Wati yang bermukim di aliran Bengawan Solo Purba. "Pembangunan fisik meliputi pagar di lingkungan dusun, lemukiman warga dan pendopo multifungsi," ujar Estu, kemarin (28/6).
Dijelaskannya, pagar dusun nantinya akan dibangun menggunakan material bata ekspose. Begitu pula dengan rumah-rumah yang akan dijadikan home stay nantinya diseragamkan untuk menambah keindahan alam pemukiman aliran sungai. "Balai padukuhan juga akan kami perlebar untuk digunakan berbagai kegiatan mulai pertunjukan seni dan kebudayaan nanti," ungkapnya.
Dusun Wota Wati merupakan ikon dari Kalurahan Pucung yang memiliki fenomena unik dan telah tersebar ke penjuru daerah. Dusun Wota Wati nantinya akan masuk dalam paket kunjungan wisatawan. Ada nilai historis terkait bidang ilmu geologi. Jadi masuk kategori wisata minat khusus. “Kelak paketnya tentu dilengkapi dengan destinasi wisata yang lain seperti pantai,” ucapnya.
Menurutnya, penataaan permukiman di aliran Sungai Bengawan Solo merupakan warisan nenek moyang dengan mempertimbangkan aspek mitigasi bencana. Kawasannya juga dilengkapi dengan drainase. Rencananya juga akan membangun lumbung mataraman yang menjadi sentra budaya. “Dilengkapi dengan aneka macam tanaman pangan dan peternakan," tandasnya. (ndi/din)
Editor : Satria Pradika