RADAR JOGJA - Setiyo Hartato menjadi kepala dinas (kadis) termuda di lingkungan Pemkab Gunungkidul. Di usianya yang baru 43 tahun ini, dia berhasil menduduki jabatan Kadis Kominfo Gunungkidul.
Pria kelahiran Dlingo 1981 silam ini memiliki visi membangun Bumi Handayani berbekal dari pengalamannya di bidang teknologi komunikasi. Sebab sebelum menjadi aparatur sipil negara (ASN), Setiyo memang bergelut di dunia usaha teknologi komunikasi.
"Saya diangkat menjadi ASN itu 2006, sebelumnya saya pengusaha warung telepon (wartel) dan warung internet (warnet) di Dlingo, Bantul," ujar Setiyo Jumat (17/5).
Lima tahun usaha miliknya berdiri. Namun berujung bangkrut akibat bencana gempa pada 2006. Peralatan kerja seperti komputer ikut rusak tertimpa bangunan akibat guncangan yang sangat dahsyat. "Bersamaan dengan bencana itu saya juga sudah mendaftar PNS dan alhamdulillah diangkat menjadi ASN di Gunungkidul," tuturnya.
Setiyo dikenal aktif dalam kegiatan. Dirinya pernah menjadi simpatisan aliansi mahasiswa kedaulatan rakyat, sekretaris organisasi masyarakat, dan ketua karang taruna desa kelahirannya. "Mengikuti berbagai organisasi pergerakan, saat itu saya mempunyai mimpi untuk membangun DIJ dari eksternal pemerintahan," katanya.
Meskipun diterima menjadi ASN, kata Setiyo, mimpinya tidak hilang. Dengan menjadi salah satu pegawai pemerintahan, tujuannya akan tetap dilanjutkan dengan beragam inovasi dan akselerasi.
Awal kariernya menjadi ASN, Setiyo mengemban tugas data dan statistik di Badan Perencanaan dan Pembangunan Gunungkidul. Kemudian pada 2014, dia diangkat menjadi kepala subagian umum. "Setelah itu 2017, saya dipindahkan ke Diskominfo sebagai Kasi Infrastruktur Jaringan Teknologi Informasi," ucapnya.
Setiyo berhasil dipromosikan menjadi Kepala Bidang Layanan Informatika di dinas yang sama 2019. Dua tahun kemudian, dirinya dipindahkan ke Dinas Pariwisata Gunungkidul dengan jabatan Kepala Bidang Ekonomi Kreatif.
Pada tahun lalu, dia nekat mengikuti lelang jabatan dan melamar sebagai kepala Diskominfo Gunungkidul. "Di tahun itu juga saya dilantik menjadi kepala dinas," jelasnya.
Lulusan Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Jogjakakarta itu mengatakan, tugas dan tanggung jawab pimpinan perangkat daerah pada prinsipnya sama baik yang muda maupun tua. "Pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki kebetulan memiliki kedekatan dengan jabatan yang saya emban, bagaimana saya dan jajaran mendedikasikan diri seluruh kemampuan kami untuk daerah" ucapnya.
Dia beserta jajarannya dituntut untuk dapat berakselerasi proses tranformasi digital yang ada di Gunungkidul. "Saya mencoba untuk membuat kinerja pemerintahan semuanya berbasis inovasi seperti Jaringan Infrastruktur Komunikasi Agawe Gunungkidul (Jare Agung) dalam mewujudkan smart city," bebernya.
Dijelaskannya, Jare Agung bertujuan mendorong percepatan ketersediaan layanan infrastruktur komunikasi dan informasi di seluruh kalurahan dalam menuju Smart Village. Setiyo mengatakan, inovasi Jare Agung terbukti berhasil dengan implementator jaringan fiber optik di 144 kalurahan yang dapat selesai tercepat di DIJ.
"Kami juga menggandeng perusahaan swasta untuk menangani titik blind spot di Gunungkidul, tentunya memanfaatkan menara-menara milik daerah," jelasnya.
Tentunya berbagai program membangun Bumi Handayani juga melibatkan masyarakat, pihaknya membentuk Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) untuk mempublikasi potensi-potnensi yang ada di tingkat kalurahan. Output-nya agar masyarakat luar daerah mengetahui potensi-potensi yang ada di Gunungkidul.
Setahun menjabat, lembaga yang dipimpinnya mendapatkan berbagai penghargaan baik dari pemerintah pusat maupun daerah. "Salah satunya Kami mendapatkan penghargaan dari Kementerian Kominfo sebagai implementator terbaik nasional Smart City," jelasnya.
Tentu saja, kata Setiyo, bukan hanya untuk mendapatkan capaian tersebut. Dirinya berkomitmen untuk selalu melakukan terobosan-terobosan lainnya untuk membangun Bumi Handayani. (ndi/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita