RADAR JOGJA – Peristiwa ini harus menjadi perhatian semua kalangan. Terkait kesehatan mental remaja. Tren self harm atau menyakiti diri sendiri di kalangan remaja terjadi di salah satu SMP negeri di Kapanewon Saptosari, Gunungkidul.
Korbannya adalah 23 siswi SMP. Wakil kepala sekolah tersebut Mujiono menyebut, 23 siswi kedapatan melukai diri sendiri. Dengan melukai bagian tangan mereka. “Kasus ini terpantau sejak akhir tahun lalu," katanya, Rabu (6/3).
Disebut, mereka menjadi korban pengaruh negatif media sosial platform TikTok. "Faktor kedua (pemicu self harm) karena keluarga," ujarnya.
Dari total 328 siswa, lanjut dia, sebanyak 30 persen tidak mendapat pengasuhan langsung dari orang tua. Si anak hanya tinggal bersama dengan nenek, atau kakek. "Sementara orang tuanya bekerja ke luar kota," jelasnya.
Pihak sekolah pun langsung bergerak cepat melakukan pembinaan. Selain anak, pihak orang tua juga telah dipanggil untuk dicarikan jalan keluar. "Kami juga berkomunikasi dan konsultasi dengan Puskesmas Saptosari," ungkapnya.
Kepala Puskesmas Saptosari dr. Ari Hermawan mengaku menerjunkan telah menerjunkan Tim konselor Upaya Kesehatan Mental Sekolah (UKMS) ke sekolah bersangkutan.
"Kami mendapat laporan dari sekolah dan langsung tindaklanjuti dengan sejumlah program, salah satunya pendampingan," kata Ari Hermawan.
Tim UKMS terdiri dari tenaga medis dan psikiater dari RS Bethesda Wonosari. Puluhan anak korban self harm telah mendapatkan pendampingan. "Kami sudah mengadakan sosialisasi kesehatan mental," ujarnya.
Kesehatan mental di sekolah menjadi penting untuk mengantisipasi kasus-kasus kekerasan kekerasan termasuk bullying. Para siswa yang ikut acara ini diharapkan bisa mengedukasi temannya yang lainnya terkait dengan apa itu kesehatan mental.
Menurutnya banyak sekali kasus-kasus yang sudah mengarah kekerasan. Salah satunya remaja melakukan tindakan-tindakan kekerasan atas dirinya sendiri.
Sementara itu Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Heri Nugroho mengaku prihatin dengan munculnya kabar tren self harm di kalangan pelajar. "Segera kami komunikasikan dengan dinas pendidikan, ini tidak bisa diselepelekan," kata Heri Nugroho.
Mengingat kasusnya terjadi pada pelajar, pihaknya menyoroti kinerja guru Bimbingan Konseling (BK). Jangan sampai guru BK hanya formalitas dan tidak menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.
Terpisah Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gunungkidul Nunuk Setyowati belum bisa dimintai tanggapan terkait dengan tren self harm di dunia pendidikan. (gun/pra)
Editor : Satria Pradika