Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jumlah Kasus Tertinggi di DIY, Ini Upaya Dinkes Gunungkidul Atasi Masalah Stunting

Andi May • Rabu, 10 Januari 2024 | 02:27 WIB
Ilustrasi anak alami stunting.
Ilustrasi anak alami stunting.

GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul terus berupaya mengatasi permasalahan stunting yang menimpa sekitar 4.700 balita.

Sebelumnya, Kabupaten Gunungkidul tercatat sebagai salah satu daerah dengan kasus stunting tertinggi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Upaya pencegahan hingga penanganan balita stunting terus dilakukan. Di antaranya, pemberian makanan tambahan (PMT), penyuluhan pola asuh anak, hingga pendataan kesehatan ibu hamil.

"PMT terus kami galakkan dengan tujuan memperbaiki gizi anak terhadap penderita ataupun bukan dan juga pemeriksaan kesehatan ibu hamil yang terindikasi anemia dengan memberikan tablet/obat penambah darah," ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Gunungkidul Diah Setyorini saat dihubungi, Selasa (9/1).

Bahkan, upaya pencegahan stunting menyasar perempuan-perempuan yang berusia remaja.

"Jadi, remaja putri ini sebagai persiapan untuk menjadi seorang ibu nantinya, kami berikan tablet penambah darah yang terdeteksi anemis atau kurang energi kronis serta kami lakukan pemeriksaan kesehatan pada remaja putri," ucapnya.

Diah menyebutkan, upaya pencegahan stunting jangka panjang juga dilakukan dengan perbaikan rumah tidak layak huni dan pemenuhan air minum yang berkualitas di lingkungan masyarakat.

"Kami juga melakukan audit stunting terhadap bayi-bayi dan ibu hamil yang beresiko melahirkan dengan kondisi bayi stunting agar mengetahui penyebabnya," ucapnya.

Setelah mengaudit, Diah mengatakan balita yang terdeteksi stunting dirujuk ke RSUD untuk dilakukan terapi jika sudah sangat dibutuhkan penanganan.

"Namun jika masih bisa dilakukan evaluasi ditingkat keluarga, penanganan hanya di rumah saja dengan memberikan PMT dan pemantauan," katanya.

Deteksi dini balita stunting dapat dilakukan di posyandu terdekat agar mengetahui pertumbuhan anak sesuai yang tercantum di buku pedoman pola asuh anak.

"Semuanya ada di buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang menjadi rujukan orang tua," ucapnya.

Deteksi stunting juga dapat dilakukan melalui berat janin terhadap ibu hamil agar dapat memperkirakan bayi lahir sehat atau tidak.

Pihaknya mengharapkan angka stunting dapat turun sesuai dengan target nasional Tahun 2024 kurang dari 14 persen.

"Kalau sekarang masih berada di 15,8 persen," imbuhnya.

Terakhir, Diah berharap semua posyandu di Kabupaten Gunungkidul mendapatkan fasilitas alat pengukuran HB yang sesuai standar agar tidak ada lagi kesalahan dalam pengukuran. (cr6)

Editor : Amin Surachmad
#Dinkes gunungkidul #Stunting #Makanan Tambahan #balita