Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wanita Tani Gunungkidul Dilatih Olah Melinjo Jadi Produk Berkualitas, Nilai Ekonomi Jadi Naik

Wulan Yanuarwati • Rabu, 18 Oktober 2023 | 01:04 WIB
NAIK: Wanita Tani Gunungkidul dilatih memanfaatka melinjo di Dusun Namberan, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul. (Dok UGM)
NAIK: Wanita Tani Gunungkidul dilatih memanfaatka melinjo di Dusun Namberan, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul. (Dok UGM)

 

JOGJA - Potensi tanaman buah mlinjo di Dusun Namberan, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul, sangat besar. Hampir setiap pekarangan penduduk ada tanaman melinjo.

Pada musim panen, buah melinjo sudah matang banyak yang jatuh. Namun, sering kali dibiarkan dan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. 

Baca Juga: Olah Sampah Organik di Pasar Rakyat, Disdag Jogja Gunakan Cairan Bioferti Buatan UGM

Memang, harga jual buah melinjo mentah hanya berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 3.500 per kilogram.

Harga ini tidak sebanding dengan kerumitan dalam proses panen buah melinjo. Sehingga masyarakat enggan mengolah dan akhirnya hanya membiarkannya berserakan.


Sekelompok mahasiswa UGM mengambil inisiatif mengenalkan metode pengolahan cerdas terintegrasi untuk mengolah buah melinjo menjadi produk emping yang lezat. Sehingga bisa menaikkan nilai.

Baca Juga: Dosen UNY Ajarkan Permainan Tradisional di Yale University

“Pengolahan buah melinjo menjadi emping aneka rasa buah tropis dilakukan dengan pelapisan permukaan atau coating emping dengan varian rasa mangga, nanas, jeruk, dan rasa buah lainnya. Dengan demikian, dihasilkan rasa emping yang gurih dan asin berbaur rasa buah,” ujar Lukman Yulianto, mahasiswa Program Studi Teknik Kimia yang tergabung dalam salah satu kelompok Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM), Selasa (17/10/2023).


Pemberdayaan masyarakat di Dusun Namberan ini telah memberikan dampak positif bagi warga. Produk yang diberi nama Namping (Namberan Emping) dijual dengan harga sekitar Rp 25 ribu per 100 gram. Dengan begitu, manfaat ekonomi dapat dicapai.

Baca Juga: Dorong UMKM Lewat Co Branding, Wagub PA X: Kita Buat Citra Produk Lokal Berkualitas Berciri Kultural

“Masyarakat desa Namberan dapat mengembangkan produk namping ini secara komersial. Sehingga melinjo yang awalnya hanya berserakan tanpa diolah kini sudah diolah menjadi produk emping aneka rasa buah tropis," jelas Lukman.


"Nantinya masyarakat semakin sejahtera dengan ekonomi meningkat dengan pengolahan melinjo ini,” imbuhnya. 

Baca Juga: Jumlah Penumpang KA Argo Semeru dan KA Argo Wilis Sekitar 500 Orang, Tak Ada Korban Jiwa

Selain kegiatan mengolah buah mlinjo, warga juga diberi edukasi pengelolaan dan perawatan pohon melinjo. Mulai dari pemupukan hingga panen.

Kemudian pengemasan produk setelah diolah dan pelatihan desain produk serta pelatihan pemasaran menggunakan e-commerce.


Selain Lukman, tim ini juga beranggotakan Fayza Putri Nurzakiah (Farmasi), M. Imam (Kehutanan), Putri Sall Sabila (TPHP), dan Umar Abdul Azis Susilo Rahmad Wibowo (Psikologi). Mereka berada di bawah bimbingan Ir Adriana. (lan) 

 
Editor : Amin Surachmad
#melinjo #UGM #Gunungkidul