RADAR JOGJA - Geopark Gunung Sewu berhasil mempertahankan status keanggotaan di UNESCO Global Geopark. Memperoleh predikat green card karena memenuhi semua persyaratan menjadi bagian dari jaringan Geopark Global. Salah satu keunikan geologi itu ada di Kabupaten Gunungkidul, karena di antara geosite memiliki bukti sejarah terbentuknya Pulau Jawa di masa lalu.
Sekretaris Geopark Gunung Sewu Hary Sukmono mengatakan, evaluasi dan validasi dilaksanakan oleh tim Asesor UGG sekali dalam empat tahun dan akan menjadi penentu status Geopark Gunungsewu di UGG berikutnya. "Selama ini semua komponen, semua elemen menindaklanjuti rekomendasi," katanya (17/9).
Rekomendasi pada saat revalidasi yang kedua, menurutnya, sebagai kunci mempertahankan keanggotaan di UNESCO. Kemudian terkait ketentuan-ketentuan konservasi edukasi, peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa dipenuhi. "Manajemennya kan masih berjalan. Tidak kalah pentingnya situs-situs masih ada dan terjaga kelestariannya," ujarnya.
Keterlibatan masyarakat untuk menjaga, menjadi bagian dari upaya-upaya pelestarian. Dikatakan, luas Geopark Gunung Sewu mencapai 1.802 km persegi. Terbagi menjadi tiga geoarea, yaitu Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan. Masing-masing kawasan memiliki geosite. Di Gunungkidul 13 lokasi, Wonogiri tujuh lokasi, dan Pacitan 13 lokasi. Total 33 lokasi geosite.
"Keunikan biologinya sudah tak terbantahkan lagi. Geosite di kawasan Pantai Sadeng (Girisubo) itu menceritakan terkait dengan fenomena terbentuknya Pulau Jawa," jelasnya.
Kemudian Geosite Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk. Ketinggian Gunung Nglanggeran sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan luas kawasan pegunungan 48 hektare. Berdasarkan penelitian para ahli geologi, Nglanggeran sekitar 60 juta tahun lalu merupakan gunung api aktif.
Gunung Nglanggeran jutaan tahun lalu terbentuk dari gunung api dasar laut yang kemudian terangkat menjadi daratan. Ini dibuktikan dari strukturnya yang didominasi oleh batuan kapur atau karst, terlihat sebagai bebatuan besar menjulang tinggi. "Geosite-geosite yang ada saling melengkapi," ucapnya.
Lalu, kekayaan geosite yang lain, Hari melanjutkan, muara Bengawan Solo di Kapanewon Girisubo. Keunikan-keunikan geologi yang masih bisa dilihat, dipelihara, dimanfaatkan dan menjaga kelestariannya. Menjaga kelestarian dengan tidak merusak. "Memanfaatkan dengan cara seperti apa, contoh yang sudah dilakukan salah satunya adalah pengelolaan wisata seperti di Gunung Api Purba Nglanggeran," ungkapnya.
Sementara itu, General Manajer Geopark Gunung Sewu Budi Martono mengatakan, dari hasil sidang Dewan Eksekutif UNESCO Global Geopark di Maroko, ada beberapa rekomendasi. Pertama, diminta meningkatkan standar kualitatif Geopark Global Gunung Sewu dan akan berfungsi sebagai pedoman untuk empat tahun ke depan. "Mempertimbangkan penggabungan beberapa wilayah maritim ke dalam wilayah geopark," katanya.
Memastikan fasilitas-fasilitas utama yang terkait geopark mengalokasikan ruang fisik (geopark corner) untuk memberikan informasi komprehensif tentang UNESCO Global Geopark (termasuk GGN, APGN, Geopark Gunung Sewu) dalam bahasa Inggris.
Baca Juga: Taman Bumi Nasional Geopark Gunung Sewu Direvalidasi
Geopark Gunung Sewu lebih meningkatkan banyak pemandu atau pengelola geosite utamanya dan memberikan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitasnya. Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, perlu dirumuskan rencana aksi dan anggaran. "Geopark Gunung Sewu wajib bekerjasama dengan mitranya," ucapnya.
Selain itu, kebijakan branding yang lebih tepat Geopark Gunung Sewu harus menjalin kemitraan dengan geopark internasional dan terlibat kerja sama atau kegiatan kolaboratif dengan geopark itu. Hal ini untuk meningkatkan standar pengelolaan dan operasional geopark. Mendorong anggota Badan Pengelola Geopark Gunung Sewu mengikuti kursus intensif UGGp atau pelatihan yang didukung oleh UNESCO/GGN. (gun/laz)
Editor : Satria Pradika