GUNUNGKIDUL - Fenomena El Nino diprediksi membuat musim kemarau tahun ini lebih kering dari sebelumnya. Dampaknya bisa merembet ke sektor pertanian dan melambungnya harga pangan.
Saat ini Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Gunungkidul terus melakukan pemantauan harga utamanya komoditas beras. Dilanjutkan dengan pengecekan cadangan pangan serta kelancaran jalur distribusi.
Posisi stok beras Bulog DIY sebanyak 2127 ton. Dari distributor pada pendataan minggu ketiga Juli 2023 ada sekitar 4 ton. Itu belum termasuk cadangan beras yang dimiliki petani secara mandiri. Kebutuhan rata beras per kapita penduduk kabupaten berjuluk Handayani sekitar 5,7 ton per bulan.
Kepala Disdag Kabupaten Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengatakan, posisi terkini harga beras Ir 1 di wilayah Gunungkidul rata-rata Rp 13 ribu per kg. Untuk beras Ir 2 Rp 12 ribu per kg. Stok beras sampai dengan saat ini diyakini masih aman bahkan surplus.
"Posisi stok sendiri setiap bulan dinamis. Kalau yang ada sekarang diproyeksi masih aman sampai 1 bulan ke depan," kata Kelik Yuniantoro (25/7).
Antisipasi dampak buruk el Nino 2023, pihaknya memastikan ketersediaan stok beras aman. Jika memang mendesak karena harga beras di pasaran tinggi, segera dilakukan Operasi Pasar (OP).
"Tahun lalu kerjasama dengan Bulog OP berlangsung sebanyak 10 kali," ujarnya.
Berdasarkan data, Kapanewon Wonosari terbanyak mengakses beras Bulog. Itu karena ibu kota kabupaten ini jarang memiliki cadangan beras. Berbeda dengan Gedangsari dan Ponjong, beras OP Bulog sepi pembeli.
Sementara itu, Aktivis LSM Jerami Jejaring Rakyat Mandiri (Jerami) Rino Caroko menyoroti masifnya alih fungsi lahan pertanian. Jika pemerintah melakukan pembiaran, tidak menutup kemungkinan El Nino menjadi "momok" menakutkan.
"Jika terlanjur, sanksi tegas kepada pengalihan fungsi lahan," kata Rino Caroko. (gun)
Editor : Amin Surachmad