Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bikin Sedih, Nelayan Pantai Sadeng Mogok Melaut

Editor News • Rabu, 8 Februari 2017 | 04:07 WIB
LIBUR DULU: Cuaca sedang tak bersahabat. Ini menyebabkan sejumlah nelayan menyandarkan kapal di Pantai Sadeng, Girisubo.(Gunawan/RadarJogja).
LIBUR DULU: Cuaca sedang tak bersahabat. Ini menyebabkan sejumlah nelayan menyandarkan kapal di Pantai Sadeng, Girisubo.(Gunawan/RadarJogja).
 

RADARJOGJA.CO.ID –Dalam dua pekan terakhir, nelayan di Pantai Sadeng Girisubo menghentikan aktivitas melaut. Mereka mogok dan tak mau ambil resiko, karena cuaca tengah tidak bersahabat.

Untuk mengamankan ekonomi keluarga, para nelayan mulai banting stir. Nelayan beralih ke sektor pertanian hingga menjadi buruh serabutan. Ini sampaikan Romlah, istri seorang nelayan di Pantai Sadeng.

"Bapak (suaminya Romlah), sudah dua minggu tidak melaut. Saya jualan kelontong untuk mencukui kebutuhan," ungkap Romlah, Senin (6/2).

Ia mengakui, mengamankan ekonomi dengan cara berjualan tik bisa sepenuhnya diandalkan. Terhentinya aktivitas tempat pelelangan ikan, karena nelayan mogok melaut berimbas pada pendapatan."Sekarang Pelabuhan Sadeng kan sepi. Otomatis berpengaruh terhadap omzet jualan," ucapnya.

Ari, nelayan lainnya mengaku tak melaut karena tidak mau rugi. Praktis, selama dua minggu terakhir, kapal hanya disandarkan. Jika nekat melaut, dipastikan bukan untung. "Menggunakan kapal kapastitas 30 GT (growston), kami mengeluarkan biaya puluhan juta sekali melaut. Kemarin, ada dua kapal nekat melaut dua hari, hasilnya minim. Jika dihitung kerugian mencapai Rp 150 juta," papar Ari.

Ketua Kelompok Nelayan Sadeng Sarpan menjelaskan, biasanya para nelayan mencari ikan lebih dari 10 mil dan melakukan pencarian berbagai jenis ikan. Mulai cakalang hingga tuna. Sekali melaut, idealnya untuk kapal ukuran besar bisa memperoleh 5 ton ikan.

"Untuk sementara, sebagian besar nelayan tidak mau melaut dan memilih memperbaiki kapal dan alat tangkap,"jelas Sarpan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DIJ KPH Wironegoro mengatakan, perairan Selatan Jogjakarta memiliki potensi perikanan melimpah. Hanya, kearifan lokal tidak menangkap ikan dalam jumlah banyak masih dipegang teguh hingga sekarang.

"Terkait pengurusan izin berlayar, kami dari HNSI siap melakukan pendampingan. Kami telah melakukan ferivikasi terhadap 14 kapal milik nelayan," kata Wironegoro.(gun/hes)
  Editor : Editor News
#Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DIJ KPH Wironegoro #mogok melaut #ferivikasi terhadap 14 kapal milik nelayan #himpunan nelayan seluruh indonesia #hnsi