JOGJA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp17.400 memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Pelemahan ini dinilai tidak hanya dipengaruhi oleh dinamika global, tetapi juga berkaitan dengan faktor fundamental ekonomi domestik.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Eddy Junarsin menjelaskan, depresiasi rupiah merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor ekonomi dan non-ekonomi. Salah satu faktor teknis yang memengaruhi adalah menurunnya surplus neraca perdagangan.
Menurutnya, meskipun neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus, nilainya terus mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya. "Artinya, ekspor tetap lebih besar daripada impor, tetapi selisihnya semakin menyempit," ungkapnya, Sabtu (9/5).
Di sisi global, kenaikan harga minyak dunia turut memberi tekanan tambahan. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak, Indonesia harus mengeluarkan biaya lebih besar, yang pada akhirnya turut mendorong pelemahan rupiah.
Pelemahan rupiah tidak sepenuhnya berdampak negatif. Dalam konteks perdagangan internasional, produk Indonesia menjadi lebih murah sehingga lebih kompetitif di pasar global.
Kondisi ini berpotensi mendorong ekspor dan membuka peluang investasi asing langsung. Namun, sektor yang bergantung pada impor justru menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya produksi. "Industri yang bergantung pada impor, seperti energi, pangan impor, serta mesin dan alat berat, justru akan terdampak karena biaya menjadi lebih mahal," ujarnya.
Eddy menilai tekanan terhadap rupiah saat ini masih bersifat jangka pendek. Meski demikian, kondisi tersebut tetap perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi gejolak yang lebih besar di pasar keuangan. "Tekanan rupiah saat ini bersifat jangka pendek. Namun jika tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan destabilizing speculation," sebutnya.
Tekanan terhadap rupiah juga mulai dirasakan di tingkat daerah. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DIJ Bidang Ketenagakerjaan Timothy Apriyanto mengungkapkan, bahwa industri, khususnya yang berorientasi ekspor, menghadapi tekanan yang semakin besar.
"Industri manufaktur yang berorientasi ekspor terancam pailit beberapa," ujarnya.
Ia menyebut tren pemutusan hubungan kerja (PHK) berpotensi meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan tekanan global yang memengaruhi biaya produksi dan permintaan pasar.
"Ini yang harus segera diantisipasi. Bagaimana upaya social tension-nya kan juga semakin nyata," paparnya.
Timothy menilai situasi ekonomi saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor global yang tidak menentu, termasuk konflik geopolitik yang berdampak pada kenaikan harga energi dan logistik.
Dalam kondisi tersebut, ia menekankan pentingnya ketahanan ekonomi nasional agar mampu menghadapi tekanan eksternal. "Pemerintah harus melakukan koreksi ke program-program penyelamatan ekonomi nasional," pesannya. (iza/pra)
Editor : Heru Pratomo