Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ekonom UGM Soroti Dampak Gejolak Sosial-Politik pada Tekanan Ekonomi RI, Kepercayaan Pasar Turun, IHSG Lemah

Fahmi Fahriza • Minggu, 7 September 2025 | 03:30 WIB
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

JOGJA - Gelombang demonstrasi dan aksi rusuh yang terjadi akhir pekan lalu dinilai memberi tekanan signifikan terhadap perekonomian nasional. Dampaknya terlihat pada menurunnya kepercayaan pasar hingga keluarnya peringatan perjalanan atau travel warning dari sejumlah negara ke Indonesia.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Denni Puspa Purbasari menegaskan, stabilitas sosial dan politik merupakan prasyarat penting bagi pertumbuhan ekonomi.


"Untuk tumbuh, ekonomi perlu stabilitas politik sebagaimana dalam Trilogi Pembangunan zaman Presiden Soeharto yang menegaskan itu," ujarnya Sabtu (6/9).

Menurut Denni, stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi tinggi, serta pemerataan pembangunan merupakan tiga pilar yang saling berkaitan dan tetap relevan hingga kini. Dia menyebut, gejolak sosial yang terjadi beberapa waktu terakhir tercermin dari pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Baca Juga: Festival Director Pestapora Kiki Ucup Klarifikasi Soal Kerja Sama dengan PT Freeport Indonesia

Dalam periode Kamis (28/8) hingga Senin (1/9), IHSG terkoreksi 2,7 persen, dari 7.952,09 ke 7.736,07. Setara dengan penurunan kapitalisasi pasar sekitar Rp 385 triliun hingga Rp 391 triliun.

"Ini merefleksikan confidence pelaku pasar pada prospek ekonomi Indonesia menurun, dan sebaliknya risikonya malah dipersepsikan meningkat," jelasnya.

Meski begitu, Denni menekankan tidak semua saham mengalami penurunan. Beberapa sektor atau perusahaan dengan katalis positif justru masih mampu bertahan. Namun, risiko pasar atau market risk secara keseluruhan tetap meningkat.


Di tengah situasi yang tidak pasti, menurutnya, dunia usaha perlu melakukan mitigasi agar bisnis tetap berjalan. Perusahaan besar biasanya memiliki daya tahan lebih kuat karena ditopang manajemen, jaringan, modal, hingga instrumen pengaman seperti asuransi.

Sebaliknya, ia menyoroti bahwa pelaku UKM menjadi pihak yang paling rentan. "UKM yang bersandar pada penghasilan harian paling sulit. Tutup tiga hari berarti tidak ada penghasilan sama sekali. Itu setara dengan sepuluh persen omzet sebulan," ungkapnya.

Baca Juga: Prediksi Latvia vs Serbia Kualifikasi Piala Dunia Grup K Sabtu 6 September Kick Off 20.00, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?

Denni menilai, kondisi ini bukan yang pertama kali terjadi. Ia menyinggung peristiwa besar. Seperti demo 212 hingga krisis multidimensi 1998, ketika IHSG terjun bebas lebih dari 50 persen.

Selain langkah pemerintah, Denni mendorong masyarakat agar memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga dengan mengatur arus kas lebih bijak. Menurutnya, kondisi tidak pasti mendorong masyarakat untuk memilah kebutuhan belanja dan menabung untuk antisipasi dana darurat.

"Memang ini akan berakibat pada perlambatan ekonomi, tetapi hal ini tidak terelakkan," tandasnya. (iza)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Gelombang Demonstrasi #Tekanan #sosial #demonstrasi #perekonomian nasional #travel warning #stabilitas #pembangunan #Ekonomi #indeks harga saham gabungan (ihsg)