Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hadapi Berbagai Tantangan Perekonomian, Ekonom UGM Ingatkan Masyarakat Terapkan Metode Wait and See: Hingga Siapkan Dana Darurat

Fahmi Fahriza • Kamis, 10 April 2025 | 03:03 WIB

 

HEADSHOT: Pengamat ekonomi yang juga Kepala Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) I Wayan Nuka Lantara.
HEADSHOT: Pengamat ekonomi yang juga Kepala Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) I Wayan Nuka Lantara.

JOGJA - Berbagai persoalan ekonomi yang terjadi di tingkat regional, nasional, hingga global perlu menjadi perhatian serius.

Gejolak seperti perang dagang, utang jatuh tempo negara, inflasi, penurunan daya beli, hingga anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indikator bahwa perekonomian saat ini tengah berada dalam situasi yang tidak menentu.

Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) I Wayan Nuka Lantara menyebut situasi ekonomi global saat ini sangat kompleks dan menuntut kehati-hatian masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.

Penting bagi masyarakat untuk memiliki kesadaran dan menerapkan metode wait and see.

 Baca Juga: Hadirkan Posko BSI di Stasiun Tugu Jogja, Bisa Tes Kesehatan, Snack Gratis, hingga Konsultasi Dokter Gratis

"Harus ngerem. Jangan terlalu mudah mengeluarkan uang, karena kita tidak tahu ke depan situasi perekonomian akan seperti apa," katanya, Rabu (9/4/2025).

 

Menurutnya, masyarakat perlu menerapkan strategi wait and see, serta mulai membangun kesadaran pentingnya menyiapkan dana darurat di tengah situasi ketidakpastian.

"Ada sentimen global yang negatif, harga komoditas yang melemah, hingga tren inflasi semakin menambah ketidakpastian," ujarnya.

 Baca Juga: Tuntaskan 300 Ton Sampah Kota Jogja, Lima Mesin Insinerator Akan Dihidupkan Pada Akhir April Ini

Kendati begitu, dia tetap menyarankan masyarakat melakukan incestasi. Namun, investasi yang harus dibarengi dengan pemahaman literasi keuangan, hingga pengenalan terhadap bidang atau sektor investasi itu sendiri.

"Sekarang sebenarnya jadi waktu yang bagus, karena harga saham sedang diskon. Tapi bukan berarti asal beli. Pilih yang fundamentalnya kuat dan masa depannya masih cerah," pesannya.

Menurutnya, sebelum memulai investasi, masyarakat harus memastikan kebutuhan konsumsi terpenuhi, memiliki dana darurat yang cukup, baru kemudian mengalokasikan dana untuk investasi. 

Baca Juga: Sengketa Lahan di Stasiun Lempuyangan, PT KAI: SKT Warga Tak Bisa Jadi Bukti Kepemilikan Aset

Pun diharapkan tidak investasi dengan menggunakan uang tabungan, atau uang pokok yang secara alokasi lebih difungsikan untuk kebutuhan primer.

"Kalau tabungan tipis dan melakukan investasi tanpa dikalkulasi, maka akan jebol juga," ucapnya.

Ia mengingatkan, bahwa investasi bukan soal keberuntungan atau tren sesaat. Terlebih lagi, dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil, keputusan emosional yang hanya ingin memburu keuntungan justru bisa memperbesar risiko. 
 
Baca Juga: Para Wakil Rakyat Dapil Jateng Apresiasi Forum Senayan Gagasan Ahmad Luthfi
 
"Jangan sampai keinginan untung besar membuat orang mengorbankan prinsip dasar. Misal penghasilan 10 juta tapi 9 juta diinvestasikan semua, bahkan sampai pinjam, itu tidak disarankan," tegasnya.

Sementara itu, Kepala BPS DIY Herum Fajarwati menjelaskan, inflasi bulanan Maret 2025 di DIY mencapai 1,25 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Tingginya inflasi tersebut secara umum juga berpengaruh cukup signifikan pada masyarakat.

Mulai dari daya beli dan kesejahteraan yang menurun, kesenjangan sosial yang meningkat, hingga kebiasaan atau pola menabung yang akan sulit dilakukan.

Sebab masyarakat sulit menyisihkan uang untuk menabung karena harus memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Inflasi Maret 2025 didorong beberapa komoditas, seperti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang berperan menyumbang inflasi cukup besar," imbuhnya. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#wait and see #FEB UGM #ekonomi lesu #dana darurat #pengamat ekonomi #ekonomi global