JOGJA - Berbagai persoalan ekonomi yang terjadi di tingkat regional, nasional, hingga global perlu menjadi perhatian serius.
Gejolak seperti perang dagang, utang jatuh tempo negara, inflasi, penurunan daya beli, hingga anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indikator bahwa perekonomian saat ini tengah berada dalam situasi yang tidak menentu.
Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) I Wayan Nuka Lantara menyebut situasi ekonomi global saat ini sangat kompleks dan menuntut kehati-hatian masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.
Penting bagi masyarakat untuk memiliki kesadaran dan menerapkan metode wait and see.
"Harus ngerem. Jangan terlalu mudah mengeluarkan uang, karena kita tidak tahu ke depan situasi perekonomian akan seperti apa," katanya, Rabu (9/4/2025).
Menurutnya, masyarakat perlu menerapkan strategi wait and see, serta mulai membangun kesadaran pentingnya menyiapkan dana darurat di tengah situasi ketidakpastian.
"Ada sentimen global yang negatif, harga komoditas yang melemah, hingga tren inflasi semakin menambah ketidakpastian," ujarnya.
Baca Juga: Tuntaskan 300 Ton Sampah Kota Jogja, Lima Mesin Insinerator Akan Dihidupkan Pada Akhir April Ini
Kendati begitu, dia tetap menyarankan masyarakat melakukan incestasi. Namun, investasi yang harus dibarengi dengan pemahaman literasi keuangan, hingga pengenalan terhadap bidang atau sektor investasi itu sendiri.
"Sekarang sebenarnya jadi waktu yang bagus, karena harga saham sedang diskon. Tapi bukan berarti asal beli. Pilih yang fundamentalnya kuat dan masa depannya masih cerah," pesannya.
Menurutnya, sebelum memulai investasi, masyarakat harus memastikan kebutuhan konsumsi terpenuhi, memiliki dana darurat yang cukup, baru kemudian mengalokasikan dana untuk investasi.
Baca Juga: Sengketa Lahan di Stasiun Lempuyangan, PT KAI: SKT Warga Tak Bisa Jadi Bukti Kepemilikan Aset
Pun diharapkan tidak investasi dengan menggunakan uang tabungan, atau uang pokok yang secara alokasi lebih difungsikan untuk kebutuhan primer.
"Kalau tabungan tipis dan melakukan investasi tanpa dikalkulasi, maka akan jebol juga," ucapnya.
Sementara itu, Kepala BPS DIY Herum Fajarwati menjelaskan, inflasi bulanan Maret 2025 di DIY mencapai 1,25 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Tingginya inflasi tersebut secara umum juga berpengaruh cukup signifikan pada masyarakat.
Mulai dari daya beli dan kesejahteraan yang menurun, kesenjangan sosial yang meningkat, hingga kebiasaan atau pola menabung yang akan sulit dilakukan.
Sebab masyarakat sulit menyisihkan uang untuk menabung karena harus memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
"Inflasi Maret 2025 didorong beberapa komoditas, seperti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang berperan menyumbang inflasi cukup besar," imbuhnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita