JOGJA – Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat ekonomi DIY pada triwulan I 2024 mengalami kenaikan sebesar 5,02 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Meskipun jumlah itu sedikit lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi triwulan I 2023 lalu yang tumbuh 5,31 persen.
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati mengatakan, sektor akomodasi dan makan minum menjadi penyumbang tertinggi di angka 12,58 persen.
Lima sektor utama yang kontribusinya paling besar di DIY adalah industri dengan andil 12,07 persen, pertanian 10,87 persen, akomodasi dan makan minum 10,41 persen, informasi komunikasi 9,8 persen, dan konstruksi 8,69 persen.
Hampir semua sektor perekonomian di DIY tumbuh positif di triwulan I.
Hanya dua dari total 17 sektor yang mengalami tren negatif.
Salah satunya adalah sektor pertanian karena mengalami pergeseran masa tanam dan panen raya di triwulan II pada April.
“Yang tumbuh negatif lain adalah pertambangan dan penggalian karena memang ada beberapa penggalian pasir yang memang di triwulan I tidak beroperasi," ujar Herum, Kamis (9/5/2024).
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen membuat DIY menjadi provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa.
Disusul Jawa Tengah 4,97 persen, Jawa Barat 4,93 persen, Jawa Timur 4,81 persen, DKI Jakarta 4,78 persen, dan Banten 4,51 persen.
Herum menyebut, kontribusi DIY terhadap perekonomian di Jawa sebesar 1,57 persen dan nasional 0,91 persen.
Menjadi yang paling rendah dibandingkan provinsi lain karena wilayahnya yang cukup kecil.
Menurutnya, lebih dari setengah perekonomian Indonesia masih di terpusat di pulau Jawa sebesar 57,7 persen.
Dengan pertumbuhan secara triwulan atau quarter-to-quarter (qtq) sebesar 0,89 persen dan yoy 4,84 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Jawa menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 2,86 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.
Sementara pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran didominasi oleh konsumsi rumah tangga dengan andil 61,02 persen.
Disusul oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dengan andil 32,14 persen, konsumsi pemerintah dengan andil 13,10 persen, dan Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) dengan andil 3,39.
Herum mengatakan, seluruh komponen pengeluaran pada triwulan I 2024 tumbuh positif.
Sebagai penyumbang utama dari PDRB menurut pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan PMTB tumbuh positif.
Komponen ekspor dan impor mengalami pertumbuhan positif. Ekspor dari DIY terutama berupa barang-barang hasil industri pengolahan.
“Sementara impor didorong kenaikan barang modal,” tuturnya.
Sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 4,58 persen.
Kemudian LNPRT dengan pertumbuhan yang tertinggi yaitu mencapai 20,29 persen.
Menurut Herum, hal ini dipicu oleh kegiatan pemilu dan sebagainya.
“Konsumsi pemerintah tumbuh 10,06 persen, kemudian PMTB naik 6,05 persen. Ekspor naik 2,02 persen dan impor tumbuh 3,78 persen,” jelasnya.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku Rp 5.288,3 triliun.
Lalu PDB atas dasar harga konstan Rp 3.112,9 triliun. Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2024 secara yoy tumbuh 5,11 persen.
“Akan tetapi jika dibandingkan dengan triwulan IV 2023 atau qtq, ekonomi Indonesia triwulan I 2024 terkoreksi 0,83 persen,” ujarnya. (tyo)
Editor : Meitika Candra Lantiva