JOGJA - Warung Madura dikenal dengan toko klontong komplit menjual kebutuhan sehari-hari mulai dari sembako maupun kebutuhan lainnya yang buka 24 jam.
Namun, belakangan wacana pembatasan jam operasional Warung Madura yang tidak diperbolehkan buka selama 24 jam santer diberitakan.
Hal ini bermula, dari pernyataan Sekretaris Kementrian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim saat kunjungannya di Bali.
Arif meminta Warung Madura mematuhi aturan jam operasional layaknya aturan yang ditetapkan pemerintah daerah.
"Kalau ada regulasi terkait jam kerja (jam Operasional) tentu kami minta untuk dipatuhi," ungkap Arif saat berada di Merusaka Hotel, Badung, Bali, dikutip dari sejumlah sumber.
Pernyataan Arif itu pun jadi sorotan publik hingga Ekonom Yogyakarta turut bersuara mengenai keberadaan warung Madura, khususnya di Yogyakarta.
Ekonom sekaligus Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Y Sri Susilo mengatakan, sejatinya keberadaan Warung Madura memiliki dampak positif, terutama pada aspek ekonomi mikro.
"Banyak Warung Madura di sekitar kampus, itu sangat membantu, karena banyak mahasiswa nugas, makan di malam hari dan butuh beli ke sana," ungkap Susilo kepada Radar Jogja, Rabu (1/5/2024).
Ia menilai, banyaknya kampus dan demografi mahasiswa di Yogyakarta, berimplikasi positif pada pertumbuhan Warung Madura secara kuantitas.
Perekonomian skala mikro diakuinya bergerak cukup masif di kalangan kampus karena adanya Warung Madura tersebut.
"Apalagi jualannya itu juga komplit, dari makanan, kebutuhan harian hingga sembako juga ada," ungkapnya.
"Belum lagi, secara harga juga lebih miring dibandingkan minimarket modern," lanjutnya.
Susilo memaparkan, tidak cukup relevan membandingkan keberadaan Warung Madura dengan minimarket modern.
Karena secara segmentasi pasar, besaran modal, hingga habit pembeli juga berbeda.
Ia pun menyoroti skala pembelian di minimarket modern dan Warung Madura.
Kecenderungan mereka yang berbelanja di minimarket modern karena situasi kepepet.
Pembelian barang pun umumnya dilakukan dalam skala kecil alias jarang membeli barang borongan.
Jika ingin membeli grosir atau banyak, Susilo menyebut bahwa salah satu opsinya di Warung Madura tersebut.
Lebih lanjut disebutkan, faktor harga tentu berpengaruh pada skala pembelian barang.
"Faktor harga cukup memengaruhi, minimarket modern dengan Warung Madura harganya beda, Madura apple to apple-nya dengan warung tradisional milik perorangan, bukan minimarket modern," bebernya.
Menurutnya terkait jam operasional Warung Madura selama 24 jam tak jadi soal.
Kendati begitu, kata Susilo, juga terdapat beberapa catatan yang menjadi persoalan.
Catatan itu berkaitan dengan bisnis yang dijalankan di Warung Madura tersebut.
Seperti yang ia kerap perhatikan, saat Warung Madura menjual bahan bakar minyak (BBM).
"Beberapa saya lihat tangkinya agak menonjol dan terlalu dekat dengan jalan ya," tuturnya.
Menurutnya, hal itu dapat menganggu arus lalu lintas, apalagi jika posisinya dekat dengan jalan raya.
"Boleh buka 24 jam asal jangan sampai mengganggu. Selama hal itu bisa dijaga dan tidak mengganggu warga saya pikir akan baik-baik saja," tandasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva