Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Beras Makin Mahal Dampaknya Semakin Meluas Jelang Bulan Suci Ramadhan

Meitika Candra Lantiva • Kamis, 29 Februari 2024 | 21:06 WIB
Ilustrasi harga beras mahal.
Ilustrasi harga beras mahal.

RADAR JOGJA – Kenaikan beras bikin pening. Apalagi sebentar lagi memasuki bulan suci Ramadhan.

Bukan hanya beras, bahan pangan lainnya pun ikut terkerek naik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga beras menjalar ke 268 daerah di Indonesia jelang puasa dan lebaran 2024. Tentunya yang terdampak semakin meluas.

Pada pekan sebelumnya, hanya 179 kabupaten/kota yang terdampak harga beras mahal dengan harga rata-rata Rp 15.246 per kg.

Namun BPS merilis, pekan ini harga rata-rata nasional beras mencapai Rp 15.387 per kg.

"Kalau kita lihat secara spasial, terlihat di beberapa wilayah kabupaten/kota di Sumatra dan Jawa masih mengalami kenaikan harga beras cukup tinggi (kisaran 10 persen-30 persen)," ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, dikutip dari YouTube Kemendagri, Kamis (29/2/2024).

Dia mengingatkan perlunya langkah nyata untuk menahan laju peningkatan harga beras, agar tidak berlanjut sampai bulan depan (Maret 2024).

Sementara itu, Deputi Bidang Kerawanan Pangan Dan Gizi Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nyoto Suwignyo menegaskan pemerintah perlu terus membanjiri beras ke pasar.

Ia menyebut beras yang diguyur adalah Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) buatan Perum Bulog.

Nyoto merinci realisasi penyaluran beras SPHP pada bulan ini hingga 23 Februari 2024 mencapai 160.803 ton, dengan wilayah penyaluran terbesar di DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Bapanas berharap capaian ini bisa terus ditingkatkan menjadi 200 ribu ton-250 ribu ton, termasuk ke ritel modern.

"Pemenuhan ritel modern dengan beras SPHP harus terus dilakukan di seluruh wilayah dan akan terus dipantau bersama-sama oleh seluruh kementerian/lembaga (K/L) terkait dan pemerintah daerah, termasuk dinas yang menangani urusan pangan dan perdagangan di provinsi maupun kabupaten/kota," tegasnya.


Pemenuhan beras SPHP di ritel juga dilaporkan Kepala Divisi Perencanaan Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Epi Sulandari.

Ia mengatakan Bulog sudah menyalurkan 7.785 ton beras SPHP kepada ritel modern di Indonesia hingga 25 Februari 2024 lalu.


Di lain sisi, Deputi III Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono mengapresiasi langkah Bulog melakukan pasar murah, selain membanjiri ritel modern dengan beras SPHP.

Namun, Edy menilai perlu ada beberapa perbaikan.

Anak buah KSP Moeldoko itu mengatakan ada sejumlah temuan di lapangan soal warga yang mengantre demi beras Bulog.

Ia menyebut antrean yang mengular tersebut disebabkan minimnya pasokan di ritel modern.


"Ketersediaan beras di pasar ritel modern masih banyak yang kosong, khususnya di minimarket. Ini, belum optimalnya pasokan beras premium dan SPHP ke minimarket, kemudian diduga menjadi salah satu penyebab antrean panjang di berbagai kegiatan pasar murah yang dilakukan oleh Bulog," ungkap Edy.


"Terus terang kami prihatin kalau sudah lihat media, orang ngantre, ada orang pingsan. Tidak banyak (orang pingsan), tapi itu menciptakan noise yang akan merugikan kita semua karena kesannya kita jadi krisis pangan, padahal sebenarnya kan berasnya ada," tambahnya. (Zihan Yafi Alghani/Radar Jogja)

Baca Juga: Ini yang Dilontarkan Tamara Tyasmara saat Berhadapan dengan Yudha Arfandi di Rekonstruksi Kasus Dante: Bilangin…

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Dampaknya #Jelang #bps #bulan suci #ramadhan #harga beras #makin mahal #Meluas