Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

General Manager Corporate Putra Asia Group, Dr. Purwanto, S.E., M.Par.,CHA., Pegang Prinsip Empat Kartu As

Bahana. • Kamis, 11 Januari 2024 | 23:15 WIB

General Manager Corporate Putra Asia Group, Dr. Purwanto, S.E., M.Par.,CHA
General Manager Corporate Putra Asia Group, Dr. Purwanto, S.E., M.Par.,CHA
RADAR JOGJA - Di tahun 2023 kemarin, Dr. Purwanto, S.E., M.Par.,CHA., berhasil “membangkitkan” Hotel Asia Solo yang kurang bagus operational performance-nya.

Hanya dalam kurun waktu kurang dari 10 bulan, Purwanto-panggilan akrabnya, berhasil meningkatkan revenue hotel yang beralamat di Jalan Monginsidi No.1 Jebres, Surakarta ini mencapai 300 %, dan berhasil meningkatkan kelas dari hotel bintang tiga menjadi bintang empat.

Purwanto menuturkan, dalam kehidupan itu, tidak ada yang tidak mungkin.

Ketika seseorang itu mau berusaha dengan kesungguhan, maka sesuatu yang buruk, bisa menjadi lebih baik, bahkan sangat baik.

Dan itu dipraktikannya dalam memanage Hotel Asia Solo. Prinsip empat kartu As (Kerja Keras, Cerdas, Ikhlas dan Tuntas), dipegangnya kuat-kuat dalam menjalankan roda industri perhotelan yang dinakhodainya.

"Saya mengenal dunia kerja, tahunya hanya kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas sampai dengan tuntas. Saya selalu diwanti wanti oleh orang tua, bahwa orang kalau mau berhasil kerjanya, harus 'temen' (Sungguh sungguh)," tegas Purwanto yang kini sebagai General Manager (GM) Corporate Putra Asia Group ini kepada Radar Jogja.

Selain itu, saat bekerja Purwanto mengedepankan prinsip kejujuran. Jujur bukan hanya pada masalah keuangan, juga jujur pada profesi yang digelutinya.

Menjadi seorang Hotelier, menurutnya, berarti harus mengikuti aturan main sebagai hotelier, yaitu displin pada Jobdesk, dan tanggung jawab harus dipegang teguh.

"Pepatah Jawa mengatakan, wong temen bakal tinemu itu, benar adanya dan sudah saya rasakan sendiri. Ketika kita sungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu, ya akan terwujud apa yang kita harapkan. Man Jadda Wa Jadda," tuturnya.

Awal masuk menjadi GM di Hotel Asia tersebut, Purwanto bekerja keras mulai dari melakukan review Sumber Daya Manusia (SDM), inventarisir berbagai hal, dan hal lainnya yang menurutnya menjadi skala prioritas.

"Di sana juga saya menciptakan house rulles agar pekerjaan karyawan bisa tertata lebih baik. Orang bertanggung jawab dengan siapa dan mengerjakan apa, biar jelas. Itu terpenting sebagai dasarnya," imbuhnya.

Selain berbenah perihal produk intangible, GM lulusan S3 UNS Surakarta ini, juga membenahi produk tangible, seperti gedung, tembok dan fasilitas lain di hotel.

Juga dibentuk tim marketing yang kuat, serta sistem kerja yang baik, maka pada akhirnya berjalan dengan baik.

"Bekerja itu sebenarnya perihal sistem. Kalau sistem berjalan, ada maupun tidak ada pimpinan, pasti tetap berjalan. Tapi, memang perlu diadakannya control juga," tuturnya.

Purwanto menilai, dalam setiap pekerjaan, jika melakukannya dengan “banting tulang” pasti akan membuahkan hasil yang maksimal.

Sebagai pemaksimalan kerja, dirinya merekrut tim yang sudah tahu pola kerja, dan selera tentang performance pekerjaan, sehingga lebih klop.

Dalam pekerjaan dirinya juga tidak pernah mengedepankan selera, karena akan berujung penilaian yang subyektif. Dirinya tegas dalam hal penentuan salah dan benar dalam pekerjaan.

 "Walaupun teman teman menganggap saya itu keras, tapi hal tersebut hanya sebatas dalam ranah pekerjaan. Masalah personal, saya tidak seperti itu," ujarnya.

Ditegaskan, “urip iku urup”. Dalam pepatah Jawa, itu dapat diartikan sebagai kinerja dan olah pikir yang menjadikan orang lain tahu keberadaannya, dan bisa ikut merasakan hal-hal positif yang ditebarkan. “Jadi, kiat-kiat yang terus saya lakukan, itu saja," tandasnya.

Industri Wisata Sumber Devisa

SEBAGAI seorang pimpinan industri hotel, Dr. Purwanto, S.E., M.Par.,CHA harus bekerja dengan matang dan cerdas.

Karena pada dasarnya, industri hotel adalah art and calculation yaitu keindahan dan perhitungan.

Di tahun politik ini, Purwanto melihat hal tersebut sebagai sebuah momen atau kesempatan bagi managemen hotel.

Pada tahun politik, banyak orang akan membelanjakan uangnya, terutama para politikus dan partai politik.

"Tahun politik, menjadi pasar bagi kita, karena kegiatan konsolidasi dan koordinasi sebuah partai atau relawan, pasti banyak dilakukan di hotel-hotel. Kita sudah merasakannya," katanya.

Menurutnya, bisnis industri perhotelan tidak hanya bertumpu pada tourism movement, tapi meeting dan kegiatan lain juga menjadi pasar yang potensial.

Sehingga dibutuhkan kejelian dalam membidik pasar. Terbukti, para tokoh nasional dan jenderal berbintang juga sering mengadakan acara atau berkunjung di hotel Asia Solo.

Dalam menakhodai Putra Asia Group, Purwanto memanage empat hotel dengan total 360 kamar.

Yaitu Hotel Asia Solo, Grand Bintang Tawangmangu, Hotel Bintang Tawangmangu, dan Hotel Bintang Solo.

Sebelumnya, beliau juga banyak berkiprah di hotel-hotel besar di berbagai kota, termasuk di Jogja, dengan ribuan kamar jumlahnya.  

"Saya sudah terbiasa ketika menangani sebuah hotel dengan pahit manis proses di dalamnya," tuturnya.

Purwanto juga disiplin membuat target, agar bisnis perhotelan yang dipegangnya berkembang dan maju dengan penghasilan sesuai harapan. Hal tersebut menjadikan hotel yang dulu tidak maksimal, bisa lebih maksimal.  

"Ini saya belum setahun di sini (Hotel Asia Solo), ibarat naik motor baru gigi dua. Kalau sudah gigi empat, bisa termehek-mehek nanti," kelakarnya.

Tourism industry, bagi Purwanto menjadi modal bangsa kedepannya. Ketika orang aktif dan kreatif, dapat membuat sesuatu yang menarik dan didatangi orang dari luar kota, bahkan manca negara.

Itu artinya menjadi salah satu sumber devisa negara. Karena itu, ia tidak setuju ketika ada anggapan bahwa sumber devisa negara dari sumber daya alam, seperti minyak bumi dan sejenisnya.

"Bagi saya, devisa yang paling tepat, ya tourism industry. Karena sumber daya alam bisa habis dan tidak bisa didaur ulang. Itu beda dengan industri wisata. Contohnya kita bisa lihat, dulu destinasi wisata di Jogja belum sebanyak ini, dan sekarang banyak sekali pilihan wisata. Kenyataan itu, sebelumnya tidak ada yang menyangka," bebernya.

Ia berharap pemerintah juga akan memberikan perhatian khusus untuk tourism industry, sebagai sumber devisa yang tidak akan mati.

Karena, kota yang menarik dan atraksi wisata bagus, menjadi daya tarik untuk mendatangkan wisatawan. (jko)

Editor : Bahana.
#Purwanto #prestasi #hotel asia solo