Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Ada Lagi yang di Bawah Rp 1 Juta, Mahalnya Tiket Pesawat Jadi Penyebab Pergerakan Wisnus Masih Minim

Heru Pratomo • Selasa, 29 Agustus 2023 | 21:26 WIB
ANTUSIAS: Pada kajian lapangan terbuka, para pengunjung diperbolehkan naik ke struktur Candi Borobudur dengan sejumlah ketentuan. Termasuk penggunaan sandal upanat dan pendampingan dari pemandu wisata
ANTUSIAS: Pada kajian lapangan terbuka, para pengunjung diperbolehkan naik ke struktur Candi Borobudur dengan sejumlah ketentuan. Termasuk penggunaan sandal upanat dan pendampingan dari pemandu wisata

RADAR JOGJA - Pergerakan wisata nusantara (wisnus) masih jauh di bawah target Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Mahalnya tiket pesawat untuk penerbangan dalam negeri dituding jadi salah satu penyebabnya. Sehingga warga Indonesia justru lebih memilih berwisata ke luar negeri, yang tiket pesawat lebih murah. 

 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno memaparkan, data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Juni 2023 lalu untuk pergerakan wisnus belum sesuai target. Dari target awal 1,2 miliar hingga 1,4 miliar pada tahun ini, hingga Juni lalu baru tercapai 433 juta pergerakan. "Beberapa momen liburan ke depan harapannya bisa menggerakkan wisnus," kata Sandi saat membuka Rakernas Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Selasa (29/8). 

 

Menurut dia, pergerakan wisnus yang masih minim ini berbanding terbalik dengan wisatawan mancanegara (wisman). Dia memaparkan, pada 2023 ini Presiden Joko Widodo menargetkan kunjungan wisman naik dari 7,4 juta dari tahun lalu menjadi 8,5 juta. Data BPS per Juni 2023 lalu, jumlahnya sudah mencapai 5,19 juta kunjungan. "Saya yakin akan bisa tembus 10 juta pada Desember nanti," katanya. 

Hal itu juga menandakan kondisi pariwisata di Indonesia saat ini yang mulai pulih dan bangkit dari pandemi Covid-19. Sandi mencontohkan dari sisi okupansi atau tingkat keterisian kamar hotel secara nasional rerata sudah 54 persen. Bahkan untuk beberapa daerah wisata, termasuk Jogja, okupansi sudah di atas 90 persen. Dia merinci, secara nasional rerata okupansi hotel bintang 56,9 persen dan non bintang 26,45 persen. "Dengan rerata lama menginap tamu 1,63 hari," tuturnya. 

 

Ditemui di tempat yang sama penasihat DPD ASITA DIJ Edwin Ismedi Himna membenarkan ucapan Sandi terkait minimnya pergerakan wisnus. Edwin menunding mahalnya tarif tiket pesawat udara jadi pemicunya. Dia menyebut, pascapandemi ini tak ada lagi tiket pesawat untuk jalur domestik yang harganya di bawah Rp 1 juta. Sebelum pandemi masih ditemui maskapai yang menjual tiket di bawah Rp 1 juta. "Ya jangan sampai terjadi kebocoran, yaitu wisatawan lebih memilih ke luar negeri, terutama negara ASEAN karena tiket pesawatnya lebih murah," pesannya. 

Data yang dimilikinya, untuk pergerakan wisnus saat ini masih didominasi di wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Dia menyebut destinasi utama masih Jogja, Bali, Bromo, Lombok dan kini beberapa juga sudah banyak yang ke Labuhan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Untuk destinasi di luar itu diakuinya peminatnya belum sebanyak sebelum pandemi. Dia mencontohkan seperti Danau Toba di Sumatera Utara. "Aksesnya seperti direct flight dari Jogja belum sepenuhnya pulih," tuturnya. 

 

Editor : Heru Pratomo
#sandiaga salahudin uno #Wisnus #sandi #wisman #asita