RADAR JOGJA - Perpustakaan Melati Kalurahan Patuk, Kapanewon Patuk, Gunungkidul menjadi juara pertama Lomba Perpustakaan Kalurahan/Kelurahan DIY Tahun 2025.
Dengan prestasi itu, Perpustakaan Melati berhak mewakili DIY dalam lomba tingkat nasional yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI.
“Lomba ini merupakan agenda tahunan. Bertujuan mendorong peningkatan kualitas layanan perpustakaan kalurahan/kelurahan se-DIY,” ujar Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY Zulfa Kurniawan di sela menyerahkan penghargaan di auditorium Grhatama Pustaka, Rabu (9/7/2025).
Lomba diikuti 20 peserta mewakili kabupaten/kota se- DIY.
Penilaian dilakukan sejak Juni lalu. Meliputi aspek pengelolaan kelembagaan, kelengkapan koleksi, pemanfaatan teknologi, inovasi layanan, hingga peran aktif perpustakaan dalam meningkatkan literasi masyarakat.
"Lomba ini bukan sekadar kompetisi, tapi bagian dari upaya pembinaan dan penguatan kualitas layanan,” tambahnya.
Zulfa menekankan pentingnya peran perpustakaan kalurahan dan kelurahan mendorong gerakan literasi di akar rumput. Setiap perpustakaan punya potensi dan keunikan masing-masing.
“Jangkauan literasi harapannya semakin luas hingga ke desa-desa," pintanya.
Setelah Perpustakaan Melati, juara kedua ditempati Perpustakaan Bakti Ilmu Samigaluh, Kulon Progo, dan juara tiga Perpustakaan Guntur Berdaya Kelurahan Gunungketur, Pakualaman, Yogyakarta.
Selanjutnya harapan I Perpustakaan Swa Pustaka Hargorejo, Kokap, Kulon Progo, harapan II Perpustakaan Khazanah Info dari Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, dan harapan III Perpustakaan Pelita Ilmu Palbapang, Kapanewon Bantul, Bantul.
Selama ini DIY menjadi salah satu provinsi dengan tradisi kuat juara nasional. Zulfa berharap Perpustakaan Melati dapat meneruskan tradisi juara tersebut.
” Semoga Perpustakaan Melati bisa membawa nama baik DIY di tingkat nasional," harapnya.
Kepala Perpustakaan Melati Oktavia Eka Purnami menjelaskan, perpustakaan yang dikelolanya berdiri sejak 2013. Seiring perjalanan waktu tumbuh sebagai ruang literasi berbasis masyarakat yang terus berinovasi.
"Saat ini ada lebih dari 1.700 judul koleksi, dari buku fiksi, nonfiksi, majalah, ebook, hingga media audio-visual," bebernya.
Sekarang juga tersedia layanan e-library dan e-katalog yang bisa diakses secara digital oleh masyarakat. Koleksi buku rata-rata meningkat 2 persen setiap tahunnya.
Buku-buku tentang pengembangan diri, pendidikan, literatur, dan bacaan anak-anak terbanyak diminati. (iza/kus)
Editor : Herpri Kartun