Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bantu Atasi Stunting, UGM Hilirisasi Padi dan Luncurkan Beras Premium

Fahmi Fahriza • Jumat, 3 Januari 2025 | 06:00 WIB

 

Peneliti sekaligus Kepala Pusat Inovasi Agroteknologi UGM Prof. Dr. Ir. Taryono
Peneliti sekaligus Kepala Pusat Inovasi Agroteknologi UGM Prof. Dr. Ir. Taryono

SLEMAN - Sektor ketahanan pangan jadi salah satu agenda utama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Dalam upaya menjawab tantangan itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) turut memberikan sumbangsihnya.

Peneliti sekaligus Kepala Pusat Inovasi Agroteknologi UGM Prof. Dr. Ir. Taryono menyampaikan, bahwa UGM baru melakukan hilirisasi inovasi varietas padi Gadjah Mada Gogo Rancah 7 (Gamagora) menjadi produk Beras Premium Presokazi.

Disebutkan, awalnya inovasi Beras Presokazi ditujukan untuk mengatasi kekurangan gizi, khususnya zat besi (Fe) dan seng (Zn) pada anak dan ibu hamil, yang menyebabkan tumbuh kembang anak terhambat dan mengakibatkan gejala kekerdilan atau stunting.

 Baca Juga: Bangunan Pasar Burung Gawok Selesai Dibongkar, Bekas Tanah Akan Dijadikan Ruang Terbuka Hijau

Ia menyadari betul, bahwa beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia menjadi salah satu opsi yang menjanjikan, karena terjangkau dan aksesibilitasnya tinggi.

"Beras Presokazi dihasilkan dari budidaya varietas padi Gamagora 7 dengan pupuk Super Smart Fertilizer (SSF) yang juga hasil inovasi PIAT UGM," katanya, Kamis (2/1/2025).

Diakuinya, ragam gagasan dan penelitian seputar biofortifikasi, yaitu meningkatkan kandungan gizi pangan melalui budidaya, sudah digagas sejak lama oleh UGM. "Hanya saja untuk beras Presokazi baru dimulai tahun 2023," terang Taryono.

Ia berujar, bahwa riset pengembangan beras Presokazi dilakukan oleh tim peneliti pangan Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM. Bekerja sama dengan pihak swasta.

Varietas padi Gamagora 7, kata Taryono, mulanya ditujukan untuk mengatasi masalah perubahan iklim yang mempengaruhi hasil panen petani. Dibanding jenis padi lainnya, Gamagora 7 lebih tahan terhadap kondisi lingkungan dan perubahan iklim.

 Baca Juga: PSS Daratkan Marcelo Cirino dan Mailson Lima, Dua Lagi Pemain Brasil Merapat, Manajemen Masih Irit Bicara

"Padi Gamagora 7 akan tetap tumbuh di lahan kering maupun tadah hujan. Ketahanan terhadap hama seperti wereng juga terbukti," serunya.

 

"Selain itu, Gamagora 7 punya masa panen lebih singkat, sekitar 104 hari dan potensinya mencapai 9,8 ton per hektar. Ini menarik petani untuk membudidayakan padi Gamagora 7 bergizi tinggi," imbuhnya.

Menurut Taryono, terlepas dari tujuan awal inovasinya, Gamagora 7 secara kebetulan menghasilkan beras bermutu tinggi yang pulen dan kaya protein. "Penggunaan bahan pembenah tanah pupuk super cerdas dari limbah pertanian mampu meningkatkan kandungan zat besi dan seng," ucapnya.

Dalam prosesnya, implementasi riset dilakukan langsung di lahan masyarakat di beberapa kabupaten, antara lain adalah Klaten, Jawa Tengah dan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

 Baca Juga: Menjamu Persebaya, PSS Belum Pasti Kembali ke MagIS, Ini Penjelasan Manajer Tim PSS Sleman Leonard Tupamahu

Diakui Taryono, proses hilirisasi riset hingga mampu menjadi produk komersial tidaklah mudah. Dibutuhkan biaya produksi tambahan yang tinggi dalam proses pembenahan tanah, menanam, hingga panen.

Di samping itu, pengembangan racikan bahan pembenah pupuk SSF juga memakan biaya yang tidak sedikit. Ditambah lagi tantangan dari minat para petani untuk menanam padi Gamagora 7 yang masih terbilang baru dan belum familiar di masyarakat.

 Baca Juga: Tak Sempat Terbahas, DPRD Kbeumen kembali Usulkan Dua Raperda Inisiatif

"Sejauh ini, hilirisasi riset Gamagora 7 sudah berkolaborasi dengan dua industri, PT Tunas Widji Inti Nayottama dan PT Agri Sparta," urainya.

Ke depannya, Taryono berharap, beras Presokazi dengan berbagai kelebihan dan keunggulannya bisa berkontribusi untuk menyelesaikan masalah agrokompleks, dan mampu menarik perhatian industri dalam proses komersialisasi.

"Beberapa perusahaan tertarik dengan beras Presokazi, bahkan ada perusahaan swasta yang tertarik memasarkan langsung berasnya," tandasnya. (iza)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#anak dan ibu hamil #Universitas Gadjah Mada (UGM) #zat besi #beras premium #Gadjah Mada Gogo Rancah 7 #indonesia emas 2045 #Gamagora #Sektor #Presokazi #hilirisasi #seng #kekurangan gizi #varietas padi #ketahanan pangan