JOGJA - Dusun Selorejo jadi salah satu kawasan yang berada di kaki Gunung Merapi, daerah itu memiliki pesona alam yang menakjubkan. Namun di balik keindahan itu, ada ancaman serius bagi kesehatan bayi baru lahir. Salah satunya risiko hipotermia.
Berangkat dari keresahan itu, tim pengabdian masyarakat dari prodi Teknologi Rekayasa Elektromedis Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) meluncurkan inovasi. Menggabungkan teknologi dan pemberdayaan masyarakat.
"Kami kembangkan alat infant warmer berbasis Internet of Things (IoT), bertujuan membantu mengatasi masalah hipotermia pada bayi baru lahir di Dusun Selorejo," kata Ketua Tim Pengabdian dari UPY Ekha Rifki Fauzi, Senin (25/11/2024).
Ekha menerangkan, alat infant warmer berbasis IoT yang dikembangkan ini, tidak hanya bermanfaat memberikan kehangatan stabil untuk bayi. Tetapi juga dilengkapi dengan sistem pemantauan suhu tubuh secara realtime.
Fitur canggih ini, kata Ekha, memungkinkan bidan dan kader kesehatan di desa tersebut untuk memantau kondisi bayi melalui aplikasi smartphone. Sehingga bisa lebih efektif dalam memberikan perawatan.
"Alat ini tidak hanya menjaga suhu tubuh bayi, tetapi juga memberi rasa aman bagi orang tua," ungkapnya.
"Mereka akan lebih tenang karena tahu bayinya dalam pengawasan yang baik dan terus-menerus," sambungnya.
Disebutkan, inovasi ini tak hanya berfokus pada distribusi alat, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat setempat. Tim pengabdian sendiri telah mengadakan berbagai pelatihan bagi bidan desa, kader kesehatan, dan masyarakat umum mengenai cara penggunaan alat, hingga penyusunan SOP, dan simulasi penanganan kasus hipotermia.
"Pendekatan kami melibatkan masyarakat sejak awal, mulai dari identifikasi masalah hingga pelaksanaan dan evaluasi," urainya.
"Kami ingin mereka punya tanggung jawab yang sama soal peningkatan kualitas layanan kesehatan di desa ini," tambah Ekha.
Lebih lanjut, meskipun memberikan dampak positif, program ini tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah infrastruktur listrik dan konektivitas internet yang terbatas. Menjadi hambatan dalam memaksimalkan penggunaan alat berbasis IoT ini.
"Semangat masyarakat Selorejo, terutama para kader kesehatan dan bidan jadi kunci utama keberhasilan program ini," serunya.
Ke depannya, Ekha berharap program ini dapat terus berjalan dan memberi manfaat jangka panjang. Ia juga berkomitmen untuk terus memantau dan mengevaluasi penggunaan alat tersebut agar memberikan dampak yang lebih luas.
"Infant warmer IoT ini semoga jadi model bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa, terutama kawasan pegunungan dengan risiko tinggi terhadap hipotermia pada bayi baru lahir," harapnya.
Baca Juga: Jaga Kelestarian Hulu Kali Code, Heroe-Pena Tanam 11 Pohon Buah di Lereng Gunung Merapi
Secara spesifik, dengan hadirnya teknologi ini, masyarakat setempat diharapkan memiliki harapan baru untuk menurunkan angka kematian bayi akibat hipotermia. Lebih dari itu, program ini juga membuktikan bagaimana teknologi bisa bersinergi dengan pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan di daerah terpencil.
"Ini bukan hanya tentang alat, tetapi juga tentang menyelamatkan nyawa," kata Ekha dengan penuh harapan.
"Ini juga contoh nyata teknologi dan kolaborasi masyarakat bisa menghasilkan solusi efektif dan berkelanjutan di daerah yang selama ini terpinggirkan," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita