Ketua TP PKK Kalurahan Mulyodadi Niken Anggraeni mengatakan gagasan mengembangkan motif gayam sebagai batik mulai diwujudkan pada 2019. Saat itu, Mulyodadi yang berstatus sebagai Kalurahan Budaya berupaya mengangkat pohon gayam sebagai ikon wilayah melalui karya batik.
Menariknya, Mulyodadi tidak memiliki tradisi membatik yang diwariskan secara turun-temurun. Para pembatik justru dibentuk dari nol melalui pelatihan yang diberikan kepada sejumlah ibu rumah tangga.”Pengembangan Batik Gayam berawal dari keinginan ibu-ibu untuk melakukan kegiatan produktif,” ujar Niken saat ditemui Minggu (13/9).
Baca Juga: Meriah! Pemkab Kulon Progo Siapkan Konser Guyon Waton hingga Manunggal Fair untuk Hari Jadi ke-75
Pengembangan batik Gayam kemudian dilakukan melalui presentasi, kerja sama, dan pembinaan. Salah satunya berasal dari Margaria Group yang memberikan bantuan alat batik cap.
“Motif gayam akhirnya tidak hanya dikerjakan menggunakan teknik canting,” tambahnya.
Batik Gayam kemudian dikembangkan menjadi lini usaha yang menyasar pasar komunitas. Pemerintah Kalurahan Mulyodadi turut mendukung dengan menerbitkan surat keputusan penggunaan produk lokal. Batik Gayam selanjutnya digunakan sebagai salah satu seragam kedinasan di Kalurahan Mulyodadi.
“Selain itu, pesanan datang dari sejumlah komunitas. Mulai komunitas dukuh, pamong, Bamuskal hingga PKK,” ujar Niken.
Baca Juga: Prediksi Skor Sassuolo vs Juventus di Serie A, Bianconeri Menanti Gol Woltemade Ataupun Kolo Muani
Selain penjualan produk, pengelola mengembangkan kelas membatik sebagai lini usaha sekaligus mendukung pengembangan Mulyodadi sebagai desa wisata. Pesertanya berasal dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa, anak-anak, hingga komunitas.
Niken mengatakan kelas membatik tersebut pernah diikuti hingga 160 peserta. “Paling banyak, itu dari kelompok guru PAUD se-Bambanglipuro,” tambahnya.
Peserta dikenakan biaya Rp 50 ribu dan mendapatkan pengalaman membatik sekaligus membawa pulang hasil karyanya. “Membawa pulang satu sapu tangan sekaligus mendapatkan pengalaman membatik,” lontarnya.
Menurut Niken, kegiatan tersebut turut menjadi sumber pemasukan bagi para perajin. Sejak awal, batik Gayam memang tidak hanya diarahkan sebagai unit usaha, tetapi juga dikembangkan dengan konsep wirausaha sosial.
Laba setelah dikurangi biaya produksi dan penghargaan untuk perajin digunakan untuk kegiatan pemberdayaan. Konsep tersebut tetap dipertahankan setelah batik Gayam menjadi unit usaha BUMDes. Keuntungan usaha diharapkan kembali kepada masyarakat.
Pemberdayaan juga mencakup warga difabel yang memiliki kemampuan membatik. “Ke depannya, kelompok rentan dan lainnya, diharapkan juga dapat terlibat,” ungkapnya.
Dari sisi legalitas dan pengakuan, batik Gayam telah memperoleh sertifikat hak cipta. Produk tersebut juga telah lolos kurasi Dekranasda tingkat provinsi sehingga berpeluang mengikuti berbagai pameran.
“Batik Gayam juga pernah mengikuti kegiatan batik kolosal dalam peringatan hari batik nasional 2026, tahun ini juga ikut acara Fashion on the Street di Prawirotawan,” rincinya.
Baca Juga: Prediksi Skor Sassuolo vs Juventus di Serie A, Bianconeri Menanti Gol Woltemade Ataupun Kolo Muani
Niken berharap, Batik Gayam dapat terus berkembang sebagai salah satu ikon pemberdayaan UMKM di Mulyodadi. Keterlibatan lebih banyak ibu rumah tangga, anak putus sekolah, dan warga difabel juga diharapkan dapat memperluas manfaat usaha tersebut. “Batik Gayam diharapkan mampu menggerakkan desa wisata Mulyodadi sekaligus berkembang menjadi industri batik yang mampu bersaing dengan industri batik lainnya,” ujar Niken. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita