BANTUL - Ancaman kekeringan saat musim kemarau belum berdampak pada hasil panen petani di Bumi Projotamansari. Bahkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul mengklaim hingga kini belum menerima laporan kegagalan panen akibat kekurangan air.
Kepala DKPP Kabupaten Bantul Bantul Joko Waluyo mengatakan, langkah antisipasi telah disosialisasikan kepada petani sebelum puncak musim kemarau tiba. Menurut dia, petani diimbau menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi ketersediaan air di wilayah masing-masing.
Daerah dengan sumber air terbatas disarankan tidak memaksakan penanaman padi dan beralih ke tanaman palawija yang membutuhkan lebih sedikit air. "Nanam padi bisa, tapi yang umur pendek," bebernya kepada Radar Jogja Selasa (25/8).
Baca Juga: Umbul Tirtomulyo: Jejak Tradisi Padusan dan Sejarah di Desa Kemasan
Sementara sebagian petani di wilayah rawan kekeringan, lanjutnya, telah memilih palawija sebagai strategi menghadapi keterbatasan air. Kedelai dan jagung menjadi sejumlah komoditas yang dipilih karena kebutuhan airnya relatif lebih rendah dibandingkan padi. "Kedelai itu kan tidak banyak butuh air, terus jagung," tambahnya.
Selain pengaturan pola tanam, ketersediaan enam sungai besar menjadi salah satu penopang sektor pertanian Bantul selama musim kemarau. Pemkab Bantul masih melihat adanya aliran air di sungai-sungai tersebut sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
"Enam sungai itu kan saat ini kelihatannya masih ada airnya," katanya.
Baca Juga: Dua Iklan Rokok di Jalan Protokol Disegel, Satpol PP Jogja: Ditutup sampai Konten Diturunkan
Pasokan air dari sungai dan embung kemudian dioptimalkan melalui pompa yang telah tersebar di sejumlah kelompok tani. Pemkab Bantul mencatat terdapat lebih dari 4.000 unit pompa eksisting yang dapat dimanfaatkan untuk membantu pengairan lahan pertanian.
Namun, kondisi berbeda di wilayah yang tidak memiliki akses mudah terhadap aliran sungai. Seperti di Kapanewon Dlingo yang menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus karena keterbatasan sumber air.
Untuk mengantisipasinya, DKPP Bantul mengalokasikan bantuan irigasi pompa (irpom) dan sumur dangkal. Dari total 21 titik bantuan irigasi pompa sumur dangkal pada 2026, Dlingo mendapat alokasi paling banyak. "Dlingo saya kasih 11 titik," ujar Joko.
Upaya menjaga ketersediaan air juga dilakukan melalui perbaikan jaringan irigasi. Program tersebut melibatkan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Berbagai langkah tersebut menjadi strategi Pemkab Bantul untuk menjaga produksi pertanian tetap berjalan di tengah ancaman kemarau. Pemerintah daerah optimistis ketersediaan air untuk pertanian masih dapat dipertahankan sehingga produksi pangan tidak terganggu hingga akhir musim kemarau. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita