Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BMKG Peringatkan Potensi Gagal Panen, DP3 Sleman Lakukan Antisipasi

D
Penulis: Delima Purnamasari❯
Buruh tani menanam padi di areal persawahan kawasan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Jumat (3/4). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
Buruh tani menanam padi di areal persawahan kawasan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Jumat (3/4). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

SLEMAN - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan petani untuk melakukan penyesuaian pola tanam menghadapi musim kemarau 2026. Peringatan itu menyusul prediksi terjadinya El Nino kategori kuat pada Agustus hingga Desember 2026. Fenomena alam ini berpotensi memicu kemarau lebih kering dari kondisi normal.

Advertisement

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menyebut, curah hujan selama tiga bulan ke depan diperkirakan berada pada kategori rendah. Curah hujan pada Agustus hingga Oktober diprediksi hanya berkisar 0-20 milimeter per bulan dengan sifat hujan didominasi bawah normal. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis yang dapat berdampak pada sektor pertanian. Untuk itu diperlukan tindakan antisipatif dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen. 

“Terutama di wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," katanya dalam keterangan resmi Senin (20/7). 

Advertisement

Reni menjelaskan, musim kemarau tahun ini diprediksi memiliki sifat hujan bawah normal di tujuh zona musim atau sekitar 87,5 persen wilayah DIY. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di seluruh wilayah DIY. 

Durasi kemarau diperkirakan berlangsung selama 19 hingga 21 dasarian di sebagian besar wilayah. Adapun akhir musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian I hingga II November 2026. Dia meminta pemerintah dan instansi terkait mengantisipasi dampak musim kemarau. Termasuk berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian maupun masyarakat.

Advertisement

"Kunci utamanya adalah pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," kata Reni. 

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Liem Astuti menjelaskan, telah membuat surat edaran yang sudah didistribusikan hingga kalurahan dalam rangka antisipasi kekeringan panjang. Dalam hal ini petani diminta untuk mengatur pola tanam hingga menggunakan benih yang tahan kekeringan. Ada sejumlah wilayah di Bumi Sembada yang dia sebut rawan, seperti Pakem, Turi, Cangkringan bagian utara, Prambanan sisi timur, hingga Seyegan sisi selatan. 

"Kekeringan pasti akan berdampak, hanya saja intensitas per wilayah itu akan berbeda. Tentu treatment-nya tergantung degan kondisi," ujarnya. 

Dia mengakui bahwa potensi gagal panen jelas ada. Hanya saja saat ini yang terpenting adalah upaya preventif yang dilakukan agar para petani bisa melakukan perencanaan usaha tani secara lebih baik. 

Pemerintah sendiri telah menyediakan sejumlah bantuan sarana pendukung sesuai dengan bidangnya. Misalnya, bidang hortikultura dan perkebunan dengan tiga unit pompa air serta empat sumur ladang.

 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

BMKG Prediksi Embun Beku di Dieng Lebih Sering Muncul Saat Puncak Kemarau 2026

BMKG Prediksi Embun Beku di Dieng Lebih Sering Muncul Saat Puncak Kemarau 2026

Belakangan ini fenomena embun membeku kembali terjadi di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Bahkan sepekan lalu suhu udara tembus di angka minus enam derajat celcius.  Suhu ekstrem ini menyebabkan...

Masuk Puncak Musim Kemarau, BMKG Ingatkan Bediding Diprediksi Berpotensi Menguat

Masuk Puncak Musim Kemarau, BMKG Ingatkan Bediding Diprediksi Berpotensi Menguat

BMKG Yogyakarta mengingatkan masyarakat mewaspadai fenomena bediding yang berpotensi terasa lebih dingin seiring masuknya puncak musim kemarau pada Juli–Agustus 2026.

Hujan Hilang Seluruhnya dari DIY, BMKG Ingatkan Ancaman Potensi Kebakaran Lahan dan Gagal Panen

Hujan Hilang Seluruhnya dari DIY, BMKG Ingatkan Ancaman Potensi Kebakaran Lahan dan Gagal Panen

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memastikan hujan telah hilang seluruhnya dari wilayah DIY. Lantaran berdasarkan hasil analisis di awal bulan Juli ini hujan berada di kisaran 0-10 mm.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer