BANTUL - Tak lagi hanya bisa dinikmati di warung makan, mi lethek khas Kalurahan Trimurti kini hadir dalam kemasan siap saji yang lebih modern. Inovasi tersebut dilakukan warga melalui Desa Preneur Trimurti untuk memperluas pasar sekaligus mengenalkan kuliner tradisional Bantul ke tingkat nasional hingga internasional.
Ketua Desa Preneur Kalurahan Trimurti Sulastri mengatakan, ide tersebut berawal dari keinginan agar mi lethek dapat dinikmati di mana saja. Sebab, sebelumnya mi lethek hanya bisa dinikmati di warung makan. Kalaupun dimasak sendiri, mi tersebut dijual tanpa bumbu. Dari situlah muncul ide untuk membuat mi lethek siap santap dengan kemasan dan bumbu yang menarik serta kekinian pada 2024.
"Awalnya kemasan kita plastik biasa, karena belum terlalu tahu kemasan yang bagus," jelasnya saat ditemui di tempat produksinya Jumat (26/6).
Seiring berjalannya waktu, pihaknya mencari referensi kemasan yang menarik melalui media sosial dan berkonsultasi dengan DKUKMPP Bantul. Hasilnya, kemasan kini tampil lebih modern dengan warna yang menarik. Dilengkapi dengan petunjuk penyajian, logo halal, serta gambar saran penyajian.
Menurutnya, meskipun mi lethek merupakan makanan tradisional, kemasan yang lebih kekinian mampu menarik minat berbagai kalangan sekaligus membantu melestarikan kuliner tradisional.
Selain kemasan yang menarik, produk tersebut juga diberi merek Mie Lethek Yu Murti. Produk ini dijual dengan harga Rp 15 ribu per kemasan 50 gram untuk varian rebus dan Rp 17 ribu untuk varian goreng. Tersedia lima varian rasa, yakni soto, kari, original, plencing, dan pedas.
"Kita tanpa pengawet, baik bumbu maupun minya," tuturnya.
Baca Juga: Menguak Fakta Unik Banyuwangi yang Selama ini Identik dengan Mitos Santet
Sulastri mengatakan, Mie Lethek Yu Murti dapat bertahan hingga satu tahun untuk varian original, sedangkan varian berbumbu memiliki masa simpan hingga delapan bulan. Dalam kondisi normal, penjualan mencapai 700-800 kemasan per bulan. Saat musim liburan, penjualan dapat meningkat hingga 1.500 kemasan.
"Pemasarannya lewat TikTok, Shopee, dititipkan ke toko oleh-oleh, tempat produksi, pembelinya ada di Pulau Jawa hingga luar Jawa," terangnya.
Dia menyebut, Desa Preneur Trimurti hanya memproduksi bumbu dan mengemas produk yang dikerjakan oleh enam warga. Sementara mie diperoleh dari pabrik mi lethek yang berada di Trimurti. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita