Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ananto Kisworo, Warga Brajan Bantul Pelopori Sodakoh Sampah hingga Dapat Penghargaan Kalpataru

Cintia Yuliani • Senin, 22 Juni 2026 | 20:34 WIB
Cintia Yuliani/Radar Jogja
Ananto Kisworo
Ananto Kisworo. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

 

BANTUL - Keprihatinan melihat kondisi lingkungan yang kumuh dan tingginya kasus demam berdarah di Brajan, Tamantirto, Kasihan, pada 2005 menjadi titik awal perjuangan dalam mengelola sampah. Ananto Kisworo pun memperoleh Penghargaan Kalpataru.

 

Berkat konsistensinya selama bertahun-tahun, pria yang dikenal sebagai Ustaz Sampah Indonesia itu berhasil meraih Penghargaan Kalpataru Adya 2026 kategori Perintis Lingkungan. Penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup.

Baca Juga: Warga Tajem Sleman Keluhkan Bau dari Pengelolaan Sampah Tak Berizin


Ananto menceritakan, saat kali pertama pindah ke Brajan pada 2005, kondisi lingkungan masih jauh dari kata ideal. Sampah botol plastik dan kaleng banyak berserakan di kebun-kebun warga. Kondisi itu memicu tingginya kasus demam berdarah di wilayah tersebut.


"Saya juga melihat banyak warga yang mengalami kesulitan ekonomi," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (21/6). Kala itu, Ananto yang masih bekerja sebagai tenaga honorer di Kantor Pusat Muhammadiyah sering didatangi warga yang meminta bantuan biaya pendidikan maupun kesehatan. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tidak bisa membantu secara langsung.


Berangkat dari kondisi tersebut, Ananto mulai memetakan potensi yang ada di kampungnya. Ide pengelolaan sampah kemudian muncul pada saat dirinya mendapat amanah menjadi takmir Masjid Al Muharram Brajan.

Baca Juga: Warga Padukuhan Kedungrong Kulon Progo Tak Khawatir Fenomena Byar-pet, Gunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro


Menurutnya, saat bulan Ramadan banyak kardus dan sampah anorganik yang terbuang begitu saja. Dari situlah muncul gagasan mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai jual untuk kemudian dimanfaatkan membantu warga yang membutuhkan.

Baca Juga: Anak Asal Sulawesi Tenggara Meninggal Dunia usai Tenggelam di Kolam Renang Banguntapan, Begini Kronologinya!


"Saya tidak meminta uang kepada warga. Saya cukup meminta sampah yang masih memiliki nilai jual. Jadi meskipun tidak punya uang, warga tetap bisa bersedekah melalui sampah," katanya.


Melalui program yang kemudian dikenal sebagai sedekah sampah berbasis eko-masjid tahun 2013, warga diminta memilah sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kertas, dan kaleng. Sampah yang sudah bersih dan kering kemudian dikumpulkan di masjid untuk dijual kepada pengepul.


Hasil penjualan sampah digunakan untuk berbagai kegiatan sosial seperti bantuan pendidikan, santunan bagi janda miskin, bantuan fakir miskin, hingga bantuan biaya kesehatan warga.


"Sebelum ada BPJS, kami pernah membantu warga yang menjalani rawat inap menggunakan hasil penjualan sampah setiap warga dikasih Rp 500 ribu," jelasnya.
Pada awal pelaksanaannya, program itu tidak langsung mendapat sambutan positif. Ketua Takmir Masjid Al Muharram Brajan ini pun mengaku sempat dianggap aneh karena membawa sampah ke masjid. 

Baca Juga: Mahasiswa Muhammadiyah Gelar Tapa Pepe di Titik Nol Jogja, Tuntut Evaluasi MBG, KDMP, dan Hentikan Militerisasi di Ruang Sipil


Pemilihan masjid sebagai tempat pemilihan sampah karana rumah warga pasti tidak jauh dari masjid. Sehingga memudahkan warga untuk meletakkan sampah yang masih memiliki nilai jual, daripada ke TPST yang jaraknya lebih jauh. 


Bahkan dirinya sering berkeliling kampung menggunakan sepeda motor Vega-nya untuk mengambil sampah dari rumah warga. "Padahal tujuannya agar sampah itu dibersihkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Baca Juga: Sembilan Calon Siswa Lolos Verifikasi Jalur Radius SMAN 1 Jogja,  Persaingan Ketat Bergeser ke Rayon Satu


Ananto yang kala itu memilah sampah sendirian di masjid pun sambil menangis. Namun seiring berjalannya waktu, hasil nyata yang dirasakan masyarakat membuat semakin banyak warga ikut terlibat.


Kini, program itu tidak hanya mengelola sampah rumah tangga. Berbagai barang bekas yang masih memiliki nilai ekonomi seperti mesin cuci, AC, hingga sepeda motor juga disedekahkan warga yang lebih membutuhkan. 

Baca Juga: Dukung Jogja Kota Festival, Kampung Sayidan Digayengkan dengan Wisata Walking Tour


Menurut Ananto, gerakan yang dirintisnya telah memberikan dampak yang baik di Brajan. Kampung yang dahulu dikenal kumuh kini berubah menjadi lebih bersih, tertata, dan nyaman dihuni. "Dulu banyak orang enggan membeli rumah di sini karena lingkungannya kurang baik," katanya.


Tak hanya di Brajan, gerakan sedekah sampah juga berkembang ke berbagai daerah di Indonesia. Sejak 2018, konsep tersebut mulai direplikasi oleh sejumlah masjid. Pada 2021, program serupa juga dikembangkan di berbagai rumah ibadah dan lembaga pendidikan.


Saat ini, gerakan itu telah diterapkan di ratusan masjid, gereja, sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi di berbagai daerah.

 


Perjalanan panjang itu akhirnya mengantarkan Ananto meraih Kalpataru Adya 2026 kategori Perintis Lingkungan. Penghargaan tersebut melalui proses panjang, mulai dari usulan tingkat kapanewon, kabupaten, provinsi hingga nasional. 


Menurut pria berumur 49 itu, pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga menjadi kunci untuk mengurangi volume sampah. Ini sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.


"Semoga penghargaan ini semakin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah sejak dari rumah tangga," tandasnya. (laz/cin)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Perintis Lingkungan #TPST #Penghargaan Kalpataru Nasional #pengelolaan sampah