DLH Bantul Klaim 95 Persen Sampah Telah Dipilah sesuai Jadwal Pengangkutan
Cintia Yuliani• Selasa, 9 Juni 2026 | 22:00 WIB
PENGANGKUTAN: Sebagian sampah yang menumpuk di Pasar Bantul telah diangkut oleh armada pengangkutan sampah Senin (4/5) - Cintia Yuliani/Radar Jogja
BANTUL - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul telah menjadwalkan pemisahan pengangkutan sampah organik dan anorganik sejak satu bulan lalu. Hasilnya diklaim sebanyak 95 persen sampah telah dipilah sesuai pengangkutan. Seperti sampah organik yang diangkut pada Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat. Sementara sampah anorganik diangkut pada Rabu dan Sabtu.
Plh Kepala DLH Bantul Fenty Yusdayati mengatakan, minggu pertama penerapan kebijakan tersebut, pemilahan sampah belum terlihat signifikan. Namun, setelah dua hingga tiga minggu berjalan, sudah tampak perkembangan pelanggan layanan pengangkutan sampah DLH Bantul, mulai dari sekolah, kantor, perumahan hingga pasar, sebagian besar telah mampu memilah sampah dengan baik.
"Jadi misal hari ini organik sudah 95 persen sampah yang diangkut organik," jelasnya saat ditemui di sela-sela acaranya Selasa (9/6).
Menurut Fenty, di pasar para pedagang sebenarnya sudah melakukan pemilahan sampah. Namun, karena tempat sampah di pasar bersifat terbuka, masih ada masyarakat dari luar pasar yang membuang sampah tanpa memilahnya terlebih dahulu.
Meski demikian, pihaknya mengapresiasi peran Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUMPP) Bantul yang turut membantu mengedukasi para pedagang agar memilah sampah sebelum dibuang ke tempat penampungan sementara.
Sementara itu, pemilahan sampah di ruang publik seperti taman masih menjadi tantangan. Tingginya mobilitas dan banyaknya pengguna fasilitas umum membuat tingkat kepatuhan dalam memilah sampah belum optimal.
"Kan banyak penggunanya di ruang publik, kan masih sekitar 60 persen yang milah sampah," katanya.
Fenty menjelaskan, sampah organik yang telah dipilah dapat mempercepat proses pengolahan dan mengurangi bau di TPS3R.
Selain itu, sampah organik yang masuk ke TPS3R milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul juga telah diolah menjadi pupuk organik. Pupuk tersebut dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah Adiwiyata di Bantul untuk penghijauan lingkungan sekolah. Di kawasan Samas, pupuk organik itu juga digunakan untuk budidaya kangkung.
"Bahkan kita menawarkan siapa yang akan mengambil, yang membutuhkan pupuk organik kita memberikan secara gratis," sebutnya.
Saat ini, pelanggan layanan pengangkutan sampah DLH Bantul telah mencapai ribuan pelanggan dengan dukungan 38 truk operasional. DLH Bantul akan terus melakukan evaluasi terhadap efektivitas jadwal pengangkutan empat hari untuk sampah organik dan dua hari untuk sampah anorganik.
"Semoga bisa diikuti di daerah lain dan swasta, agar bisa memilah sampah, saya yakin nanti di olah dengan baik, mengurangi bau dan sebagainya," tandasnya. (cin)