Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pawai Takbir IRM Jambidan Bantul Bisa Bertahan 30 Tahun; Regenerasi Kuncinya, Dulu Eyang Kini Gantian Cucu Jadi Peserta

Cintia Yuliani • Jumat, 29 Mei 2026 | 21:43 WIB
Cintia Yuliani/Radar Jogja
Kelompok Risma Pringgolayan Modalan sedang berlatih sebelum pawai takbir.
Dok. Pemkab Bantul. Para peserta IRM Jambidan dari berbagai kelompok sedang menampilkan penampilan terbaiknya.

 

BANTUL - Pawai takbir terbesar dan tertua di DIJ yang digelar IRM Jambidan kembali menyedot perhatian ribuan warga, Kamis (28/5) malam. Pawai mengambil rute dari Lapangan Potorono hingga Lapangan Jambidan di Kapanewon Banguntapan.

 

Pawai kali ini diikuti 14 kelompok dari berbagai daerah di Jogjakarta hingga luar kabupaten. Ketua Panitia Pawai Takbir IRM Jambidan Naufal Mustafa Rustam menyebut, pawai takbir  telah berlangsung selama 30 tahun dan terus bertahan hingga kini, berkat kuatnya sistem regenerasi di kalangan pemuda.


“Awalnya dari angkatan orang tua kami, sekitar tahun 90-an. Sekarang sudah sampai anak, bahkan cucu yang ikut. Regenerasi di IRM Jambidan ini kuat sekali,” ujarnya saat ditemui di Lapangan Potorono, Kamis (28/5). 

Baca Juga: Api dan Air Waisak Disakralkan di Candi Mendut Magelang, Prosesi di Altar karena Sedang Rekonstruksi


Ia menambahkan, keberlangsungan kegiatan ini tidak lepas dari kolaborasi lintas generasi. Para senior tetap terlibat tanpa mendominasi, sementara generasi muda diberi ruang untuk mengelola kegiatan.


“Bapak-bapak, mas-mas, sampai pemuda sekarang tetap saling bantu. Jadi bisa bertahan sampai 30 tahun,” tambahnya.

Baca Juga: PSS Sleman Belum Pastikan Perpanjangan Empat Pemain Asing, Pieter Huistra Berikan Perhatian Khusus ke Gustavo Tocantins 


Tak hanya sebagai tradisi, pawai takbir ini juga menjadi sarana syiar Islam yang terbuka bagi siapa saja. Peserta datang dari berbagai wilayah seperti Sleman, Gunungkidul, Kulon Progo, hingga luar Bantul.


“Tidak ada batasan. Siapa saja boleh ikut selama mampu dan siap,” katanya.


Tahun ini, sebanyak 14 kelompok ambil bagian. Masing-masing kelompok disebut bisa melibatkan sedikitnya 150 hingga 200 orang, sehingga total peserta mencapai ratusan hingga ribuan orang yang terlibat dalam pergerakan pawai.


Menariknya, setiap kelompok menampilkan konsep berbeda. Mulai dari tema alam, sejarah Islam, hingga konsep kreatif yang tak biasa seperti sirkus pada tahun sebelumnya. “Panitia tidak membatasi tema. Jadi kreativitas peserta benar-benar keluar,” jelasnya.

Baca Juga: Jaring Talenta Paduan Suara Tampil di Istana Merdeka, Disbud DIY Buka Audisi Gita Bahana Nusantara


Hadiah utama dalam kegiatan ini pun terbilang unik, yakni kambing. Namun bagi peserta, nilai utama bukan pada hadiah, melainkan gengsi dan kebanggaan menjadi juara umum.
Antusiasme warga terlihat sejak ba’da Magrib. Sepanjang jalur pawai, masyarakat telah menggelar tikar di pinggir jalan untuk menyaksikan arak-arakan. Tak sedikit pula pelaku UMKM yang memanfaatkan momentum ini untuk berjualan makanan, minuman, hingga mainan anak.


Salah satu peserta IRM Jimbadan Giono, 45, dari kelompok Risma Pringgolayan Modalan mengaku, telah empat kali mengikuti pawai ini. Ia menyebut keterlibatannya murni untuk syiar Islam sekaligus menjaga tradisi.


"Yang kedua, memang kita sudah sering sekali mengikuti kayak gini. Walaupun tidak seperti yang kita harapkan, mendapat juara," jelasnya. 

Baca Juga: Pemkot Jogja Usulkan Penataan Bantaran Code Jadi Percontohan Nasional, Butuh Rp 56 Miliar Bangun Jalan Inspeksi Sejauh Empat Kilometer


Kelompoknya yang berasal dari Padukuhan Pringkolayan, Modalan, Kalurahan/Kapaneown Banguntapan, dan Gendongan, Kota Jogja tahun ini mengusung tema Taman Surga yang menggambarkan keindahan kehidupan setelah kematian. Konsep itu divisualisasikan melalui kostum warna-warni, bunga, kupu-kupu, hingga properti taman yang meriah.


"Kami ada adegan seseorang tertidur lalu bermimpi tentang taman surga. Di sana penuh keindahan dan bidadari,” jelasnya.


Persiapan dilakukan selama sekitar dua bulan, dengan masa produksi intensif hingga satu bulan penuh. Latihan dan pembuatan properti bahkan dilakukan hingga larut malam demi mengejar target penampilan.

Baca Juga: Mutasi Empat Kepala OPD Kulon Progo Tertunda Akibat Berkas Mandek di Tingkat Menteri


Kelompoknya disebut telah beberapa kali mengikuti berbagai ajang serupa di wilayah Bantul dan sekitarnya. Setelah sempat vakum pada 2015, pihaknya kembali aktif dan terus berpartisipasi hingga sekarang.


Meski hadiah yang diperebutkan hanya kambing, semangat peserta tidak pernah surut. “Bukan soal hadiah, tapi kebanggaan dan prestise kalau bisa juara umum,” pungkasnya. (cin/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#INTAS GENERASI #takbir #pawai #Jambidan #Syiar Islam