Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Unik, Tujuh Pasangan Nikah di Atas Traktor dengan Mahar Sepasang Ayam

Cintia Yuliani • Selasa, 19 Mei 2026 | 20:15 WIB
UNIK: Pasangan pengantin sedang melakukan prosesi ijab kabul di atas traktor di Padukuhan Geneng, Panggungharjo, Sewon Selasa (19/5). (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
UNIK: Pasangan pengantin sedang melakukan prosesi ijab kabul di atas traktor di Padukuhan Geneng, Panggungharjo, Sewon Selasa (19/5). (Cintia Yuliani/Radar Jogja) 

BANTUL - Pernikahan unik kembali digelar di Padukuhan Geneng, Panggungharjo, Sewon Selasa (19/5). Sebanyak tujuh pasangan dinikahkan di atas traktor. Maharnya pun tidak biasa. Yakni menggunakan sepasang ayam. 

 

Pelaksanaan nikah massal ini pun cukup unik. Ijab kabul dilakukan di atas traktor sawah dengan mahar yang tidak biasa, yakni sepasang ayam. Mahar ini dipilih sebagai lambang ketahanan pangan, semangat kehidupan, dan kemakmuran. "Diharapkan bisa mandiri setelah menikah nanti," jelas Ketua Golek Garwo Forum Taaruf Indonesia (Fortais) dan Nikah Bareng Nasional Ryan Budi Nuryanto selaku penyelenggara acara.

 Baca Juga: Pikap Scorpio Mahindra dari India Mulai Mengaspal di Purworejo untuk Kendaraan Operasional KDMP 

Sementara penggunaan traktor, tak hanya dipilih karena unik sebagai tempat ijab kabul. Melainkan juga menggambarkan perpaduan nilai budaya, kerja keras, dan kehidupan agraris. 

Secara keseluruhan, pasangan yang menikah ingin mengawali hidup baru dengan nilai kesederhanaan, kerja keras, dan kebermanfaatan. Layaknya petani yang berusaha memberikan hasil bumi terbaik. "Begitu pula pasangan nikah bareng," katanya.

Tujuh pasangan pengantin ini, tidak hanya berasal dari DIY. Namun juga Jawa Tengah hingga Banten. "Usia paling muda 20, paling tua 49 tahun," sambungnya.

Baca Juga: Tampil Konsisten namun Kontrak Segera Habis, Masa Depan Franco Ramos di PSIM Jogja Masih Tanda Tanya 

Selama akad nikah, para pengantin menggunakan busana khas Jogja. Terdapat pula bridesmaid dari warga setempat yang mengenakan busana Jawa. Selain itu, anak-anak TK turut tampil sebagai cucuk lampah dengan menarikan tari edan-edanan sebagai simbol tolak bala. 

Prosesi ijab kabul dilakukan di tengah pagelaran wayang cekak oleh dalang cilik Ki Lanang Beko yang diiringi karawitan. Ia mengatakan, lantunan gamelan yang mengandung filosofi pernikahan melambangkan pasangan pengantin akan mengarungi kehidupan panjang seperti alunan gending Jawa yang sarat makna demi meraih kehidupan sejahtera.

 

"Kita buka nasional kurang lebih 500 peserta yang mendaftar," bebernya.

 

Sementara itu, salah satu peserta nikah massal Arleta Kanaya, 20, mengaku, ikut prosesi pernikahan karena tidak perlu mengeluarkan biaya. Ia juga tertarik dengan konsep tradisional yang sarat akan makna. "Sebagai Gen Z, saya mantap menikah di usia muda," jelas wanita asal Purworejo, Jawa Tengah ini.

 

Dian Puspitasari yang berasal dari Banten mengaku, mendaftar pada hari terakhir. Ia bersyukur bisa lolos setelah menyisihkan ratusan pendaftar lain yang mengikuti acara tersebut. "Tahu acara ini dari media sosial yang viral," katanya. (cin/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Padukuhan Geneng #Golek Garwo Forum Taaruf Indonesia (Fortais) #pernikahan #nikah #traktor