BANTUL – SMK Negeri (SMKN) 1 Pandak Bantul mengembangkan greenhouse budi daya melon berbasis hidroponik untuk mencetak petani milenial yang melek teknologi pertanian modern. Siswa dilibatkan langsung dalam pengelolaan greenhouse, dengan hasil panen mencapai sekitar satu ton melon setiap musim tanam.
Guru pendamping budi daya melon SMKN 1 Pandak Shodik Manunggal mengatakan, pengelolaan greenhouse dilakukan oleh 20 siswa kelas satu dan dua. Dikelola siswa jurusan Agribisnis Tanaman dengan sistem pertanian modern berbasis hidroponik.
Para siswa dijadwalkan piket harian dengan pembagian tiga sampai empat siswa setiap hari.
“Yang dicek mulai dari nutrisi pupuk, tandon air, blower, sampai irigasi," katanya saat ditemui di SMKN 1 Pandak.
Pihaknya menggunakan irigasi tetes, yang diharuskan setiap hari dicek. Jika ada satu saluran mampet saja, tanaman bisa mati karena tidak tersiram. Maka dari itu, setiap hari siswa secara bergantian merawat budi daya melon.
Menurutnya perkembangan teknologi pertanian, kini semakin banyak dibangun menggunakan greenhouse sebagai sarana pembelajaran dan praktik modern.
Kehadiran jurusan pertanian mendorong pemanfaatan greenhouse agar siswa dapat belajar langsung bagaimana menjadi petani milenial yang tidak hanya mengandalkan cara tradisional, tetapi juga memanfaatkan berbagai alat dan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan hasil dan efisiensi kerja.
"Jadi pertanian tidak harus bekerja ekstra berat, tapi lebih pada maintenance penggunaan alat,” ujarnya.
Baca Juga: PSS Sleman Fokus Asah Set Piece untuk Bungkam Garudayaksa FC di Final Pegadaian Championship
Ia menjelaskan, pada awal pembentukan greenhouse hanya dilakukan satu kali uji coba penanaman. Setelah dinilai berhasil, budi daya kemudian terus berjalan hingga sekarang.
Komoditas melon dipilih karena dinilai lebih menarik bagi masyarakat dibanding tanaman lain seperti cabai. Selain untuk produksi, greenhouse juga dipersiapkan menjadi sarana wisata edukasi pertanian modern.
“Kalau melon bisa jadi tempat wisata edukasi supaya anak TK dan SD tertarik belajar pertanian modern,” jelasnya.
Baca Juga: Hadapi Ancaman Megathrust, Basarnas Yogyakarta Klaim Alut Evakuasi Sudah Lengkap
Greenhouse yang memiliki luas sekitar 400 meter persegi itu mulai digunakan pada pertengahan 2024. Seluruh sarana dan peralatan telah disediakan sekolah sehingga siswa tinggal praktik di lapangan.
Namun, tidak semua siswa bisa ikut merawat budi daya di dalam greenhouse karena sistem budi dayanya dinilai cukup rumit.
“Satu kelas biasanya masuk untuk materi dan melihat cara kerjanya. Siswa yang praktik langsung merupakan siswa pilihan,” terangnya.
Untuk menjaga sterilitas, greenhouse dilengkapi dua pintu yang harus dibuka dan ditutup secara bergantian, serta menggunakan alat kaki yang telah disiapkan. Sistem tersebut diterapkan guna mengantisipasi serangan hama dan penyakit tanaman. Jika hama dan penyakit yang berada di tanaman banyak, maka penggunaan pestisida pun juga banyak.
Baca Juga: DPRD Kulon Progo Soroti Kasus Pengunduran Diri Guru Berstatus JLOP, Banting Stir Jadi Pegawai SPPG
Sehingga untuk menghindari hal tersebut pihaknya harus menjaga tempat budi daya tetap steril.
Sejak 2024, greenhouse tersebut sudah delapan kali panen. Dalam satu kali masa tanam terdapat sekitar 900 pohon melon dengan hasil satu pohon satu buah. Total hasil panen mencapai sekitar satu ton setiap panen.
Masyarakat yang ingin berkunjung ke lokasi tidak dipungut biaya alias gratis. Jika ingin memetik melon, satu buah dibanderol Rp 40 ribu.
Sementara itu, Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta mengatakan, melon yang dibudidayakan merupakan jenis melon premium yang berasal dari China. “Tadi sudah kita rasakan, renyah, manis dan kadar airnya cukup,” katanya.
Menurutnya, sistem hidroponik yang diterapkan sangat efisien untuk dikembangkan masyarakat, khususnya petani milenial. Sistem tersebut dinilai praktis karena tidak menggunakan media tanah, melainkan nutrisi air.
“Harapan kami masyarakat bisa menanam melon seperti ini. Hidroponik sangat praktis diterapkan,” ujarnya.
Aris juga mengapresiasi antusiasme para siswa dalam mengembangkan budi daya melon di sekolah. Menurutnya, inovasi tersebut diharapkan mampu menggugah minat petani muda maupun pemula untuk terjun ke dunia pertanian modern.
Ia menambahkan, pengembangan budi daya melon hidroponik di SMKN 1 Pandak diharapkan dapat menjadi percontohan bagi sekolah lain sekaligus mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Bantul. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita