BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat ada peningkatan kasus diabetes melitus dua tahun terakhir berdasarkan data sistem informasi puskesmas.
Awal tahun 2026 sampai Februari ini kasus diabetes melitus sudah menyentuk 13.452 kasus.
Tahun 2024 terdapat 25.407 kasus diabetes melitus, sedangkan di tahun 2025 sebanyak 26.557 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto mengatakan, peningkatan penemuan kasus disebabkan karena seiring dengan adanya kegiatan skrining aktif pada awal 2026.
Kegiatan skrining diabetes melitus dilakukan bersamaan dengan kegiatan cek kesehatan gratis (CKG) yang dilakukan di semua puskesmas di Bantul.
“Rentang usia pengidap diabetes melitus terbanyak di atas 50 tahun,” katanya Kamis (26/3/2026).
Baca Juga: Prediksi Skor Italia vs Irlandia Utara Playoff Piala Dunia Jumat 27 Maret 2026
Selain skrining aktif, Dinkes Bantul juga melakukan upaya penanggulangan penyakit diabetes melitus mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Promotif dilakukan dengan edukasi dan sosialisasi masyarakat. Preventif dengan skrining diabetes melitus.
Skrining diabetes melitus untuk usia 15 sampai 39 tahun diiringi dengan skrining obesitas dan atau hipertensi dan semua usia lebih dari 40 tahun.
Baca Juga: Mbappe Tak Bisa Bayangkan Piala Dunia Tanpa Adanya Neymar
"Skrining ke masyarakat dengan faktor risiko komplikasi diabetes melitus yaitu dengan skrining jantung dan stroke, juga pada pasien tuberkulosis," jelasnya.
Selain itu, Dinkes Bantul juga melakukan kuratif dan rehabilitatif yang dilakukan melalui pengecekan kesehatan atau kadar gula darah secara rutin bagi penderita diabetes melitus minimal satu kali dalam sebulan.
Sebagai upaya dalam pemberian standar pelayanan minimal penderita diabetes melitus.
Selain itu, pemberian edukasi, dan obat diabetes melitus melalui kelas prolanis diabetes melitus di puskesmas.
Dilakukan juga penyiapan puskesmas dan rumah sakit dalam memberikan layanan kesehatan dalam penanggulangan diabetes melitus sesuai standar, termasuk penyediaan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) gula darah di puskesmas serta menjamin ketersediaan obat-obatan diabetes melitus.
Baca Juga: Pengadilan AS Nyatakan Meta dan YouTube Bertanggung Jawab dalam Kasus Adiksi Media Sosial
Sementara itu, Kepala Dinkes Agus Tri Widiyantara mengatakan, diabetes melitus biasanya terjadi merupakan akumulasi dari berbagai faktor risiko seperti genetik, gaya hidup, pola makan, lingkungan, dan sebagainya.
“Sehingga munculnya diabetes melitus biasa terjadi pada umur-umur yang sudah relatif tua, meskipun bisa juga terjadi pada usia muda,” terangnya.
Untuk mencegah terjadinya diabetes melitus apalagi bila terdapat faktor resiko keluarga atau genetik yang juga menderita diabetes melitus, masyarakat diminta untuk menerapkan pola hidup sehat, perbanyak aktivitas fisik.
Baca Juga: Hilirisasi dan Energi Domestik Digenjot, Investasi Ratusan Triliun Disiapkan
Pola makan yang seimbang, hindari konsumsi gula dan karbohidrat yang berlebihan.
“Dan selalu lakukan cek kesehatan secara berkala,” pungkasnya. (cin)
Editor : Winda Atika Ira Puspita