BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat sebanyak 237 kasus leptospirosis sepanjang 2025 di Bantul.
Sebanyak, 13 di antaranya meninggal dunia. Persebaran kasus ini merata di 17 kapanewon.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto mengatakan, dari jumlah yang dinyatakan meninggal dunia ada yang terkena komorbid, sehingga tidak mutlak, karena adanya paparan bakteri Leptospira.
"Persebaran kasus ini merata di 17 kapanewon, tapi kasus yang tertinggi di Bantul, lalu Sewon, dan Kasihan," katanya Kamis (8/1/2026).
Faktor yang memengaruhi terjangkitnya penyakit leptospirosis berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang tidak sehat dan adanya populasi tempat perindukan tikus yang meningkat.
"Kebanyakan kasus ini ditemukan dari hewan pengerat berupa tikus sawah, tikus rumah, tikus atap, hingga tikus got," ujarnya.
Potensi peningkatan kasus leptospirosis lebih dipengaruhi oleh berkembangnya populasi hewan pengerat akibat keberadaan sumber makanan yang dapat menjadi sarang tikus, bukan semata-mata karena tingginya curah hujan.
"Hanya saja, ketika masyarakat langsung berhubungan dengan bakteri Leptospira dari urine tikus, maka dapat terkena leptospirosis," jelasnya.
Untuk menekan angka kasus tersebut, pihaknya telah menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada berbagai instansi, mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah kalurahan, hingga satuan pendidikan. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita