BANTUL - Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul tengah menyiapkan detail engineering design (DED) untuk pengajuan rehabilitasi jaringan irigasi ke pemerintah pusat.
Rehabilitasi jaringan irigasi ini dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian.
Kepala DPUPKP Bantul Jimmy Alran M Simbolon mengatakan, pengajuan dilakukan di tengah kondisi anggaran daerah yang terbatas. Sementara kebutuhan penanganan jaringan irigasi terus meningkat.
“Di tengah efisiensi anggaran, tetap kita upayakan rehabilitasi saluran irigasi lewat pengajuan ke pusat. Kita akan mengajukan sistem penanganan bertahap sambil DED kita siapkan,” katanya saat dihubungi lewat telepon Jumat (7/11/2025).
DPUPKP Bantul mengajukan dukungan pembiayaan ke pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO).
“Kalau DED sudah siap, penanganan bisa segera dilakukan, apalagi ada beberapa aset yang perlu mendapat perhatian cepat,” terangnya.
Baca Juga: BMKG Yogyakarta Deteksi Siklon Kalmaegi, Waspada Cuaca Ekstrem dan Gelombang Laut Tinggi
Saat ini rehabilitasi irigasi yang sudah selesai dalam pengerjaan di tahun ini dengan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Berada di lima titik yang tersebar di empat kapanewon yakni Banguntapan, Imogiri, Sewon, dan Pundong.
Kondisi jaringan irigasi di Bantul saat ini memang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Tingkat kemantapan saluran pengairan dari total sekitar 8.000 hektare luas lahan sawah belum sepenuhnya dalam kondisi baik.
“Jadi kita masih perlu upaya pemeliharaan yang lebih intensif,” ujarnya.
Jimmy menuturkan, rehabilitasi dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian. Ia mengibaratkan jaringan irigasi seperti jalan yang harus rutin dirawat agar fungsinya tidak menurun.
“Kalau jaringan irigasi tidak dipelihara secara berkelanjutan, kondisinya akan kembali turun,” katanya.
Baca Juga: Masih Banyak yang Tahunya Borobudur di Jogja, Ini Strategi Promosi Pemkab Magelang
Lanjutnya, dengan rehabilitasi irigasi, dapat mengembalikan fungsi pengairan sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga.
Terkait rehabilitasi yang sedang dalam proses pengerjaan, total ada sekitar lima titik dan akan dipastikan selesai sebelum Desember 2025.
“Kemungkinan lebih dari lima, karena ada beberapa yang masih proses,” jelasnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita